|
Desa Basang Kawan Klungkung |
|
|
|
|
Written by Krama IT desa Basangkawan
|
Yang Unik Dalam Awig-awig Desa Adat Kawan
Biasanya jika dalam satu keluarga ada kematian maka siempunya keluarga harus sudah memikirkan segala hal yang berkaitan dengan upacara yang menyertainya apakah itu penguburan ataupun pengabenan
Akan halnya pengabenan, Menurut sebuah sumber, dengan melakukan upacara Ngaben, arwah yang meninggal dibebaskan dari ikatan duniawi dan menjelma kembali ke dunia melalui reinkarnasi. Pada umumnya dengan pertimbangan efisiensi sebuah keluarga yang sudah cukup materi lebih memilih untuk langsung melakukan upacara kremasi atau ngaben ketimbang melakukan penguburan terlebih dahulu.
Namun sebagaimana pelaksanaan upacara adat lainnya pelaksanaan upacara ngaben biasanya cukup menyita waktu dan tenaga juga disamping persiapan disisi materi, hal inilah yang sering dijadikan alasan dan keberatan beberapa pemuda hindu dengan menyoroti beberapa kegiatan upacara yang dilaksanakan secara besar-besaran dan terkesan jor-joran padahal semua upacara tersebut menurut Weda bisa diganti dengan hanya melakukan upacara kecil dengan disaksikan oleh Dewa Agni ( Agni Hotra )
Lain halnya yang terjadi di Desa Adat Besang Kawan, Kelurahan Semarapura Kaja, yang terdiri atas 2 desa adat ini ( Desa Adat Besang Kangin ) dan ( Desa Adat Besang Kawan ) Pelaksanaan upakara Yadnya yang dilaksanakan oleh seorang krama adat di desa ini dapat dikatagorikan sangat unik dan mungkin bisa dijadikan semacam contoh bagi desa adat lain di Bali.
Tidak seperti di desa adat lain di Bali, Awig-awig desa setempat sudah sangat mengikuti motto paras paros sarpanaya selunglung sebayantaka dimana kedukaan dan kesusahaan yang dialami oleh seorang warga adat wajib dipikul bersama oleh warga lainnya, begitupun jika salah seorang warga memiliki hajatan baik itu berupa kedukaan ataupun upacara adat lainnya maka siempunya upacara hanya berkosentrasi pada penyediaan dana dan penerimaan tamu-tamu yang datang, sedangkan semua kelengkapan upacara dikerjakan sepenuhnya oleh krama adat yang lain dengan dikoordinir oleh Kelihan Banjar

Seperti Upacara Ngaben besar dari keluarga Bapak Gede Negara, yang dilaksanakan pada 31 Oktober 2007 dilaksanakan sepenuhnya oleh banjar. Menurut Bapak Wayan Suta, selaku Kelian Banjar menyatakan bahwa tujuan dilaksanakan upacara ngaben ini adalah untuk mengembalikan arwah orang yang telah meninggal kepada Yang Maha Kuasa untuk menemukan jalan yang lebih baik.
Persiapan upacara ngaben ini dimulai sejak 28 Oktober dengan pembuatan banten dan segala keperluannya yang berkaitan dengan upacara Ngaben. Kemudian pada puncak acara, upacara diawali oleh ngulapin, mebersih, dan kemudian mayat dibawa ke setra untuk di aben (dibakar). Setelah upacara pembakaran selesai, dilanjutkan dengan nganyud yaitu upacara membuang abu mayat yang telah dibakar dan dihanyutkan ke kali.
Di dalam Panca Yadnya, upacara ini termasuk dalam Pitra Yadnya, yaitu upacara yang ditujukan untuk roh lelulur. Makna upacara Ngaben pada intinya adalah untuk mengembalikan roh leluhur (orang yang sudah meninggal) ke tempat asalnya. Manusia memiliki Bayu, Sabda, Idep, dan setelah meninggal Bayu, Sabda dan Idep, ketiga hal tersebut dikembalikan ke Brahma, Wisnu, Siwa. Dengan dilakukan upacara ngaben ini, umat Hindhu percaya bahwa roh leluhur yang telah meninggal akan mengalami reinkarnasi.
Menurut Ida Pedanda Gede Made Gunung dari Griya Purnawati Blahbatuh, Pelaksanaan Yadnya dikatakan berhasil guna apabila setelah pelaksanaan upakara siempunya upacara bisa merasakan kebahagiaan dan kelegaan maka dari itulah konsep Yadnya semestinya dikembalikan pada ajaran intinya yaitu persembahan yang tulus iklas menurut kemampuan
Yadnya yang dilaksanakan dari hasil yang tidak wajar seperti mencuri ataupun berutang sama dengan sia-sia sebaliknya orang yang sebenarnya mampu namun tidak beryadnya mereka adalah pencuri
Namun bagaimana apabila upacara ngaben ditiadakan dengan alasan tradisi ataupun efisiensi ? selanjutnya e-banjar akan mengupas masalah “ Upacara Kematian di beberapa desa adat “
|
|
Last Updated ( Saturday, 07 February 2009 )
|