BANJAR ONLINE
HOME
SEARCH
BANJAR SAMATRA
FAQ
MAWIRASE
Buku Tamu
PABLIGBAGAN
Hit Counter
024057081
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari Ini1588
mod_vvisit_counterKemarin1854
mod_vvisit_counterMinggu Ini10327
mod_vvisit_counterBulan Ini22046
mod_vvisit_counterSeluruhnya453218
DHARMAWACANA
PEDANDA GUNUNG
PRABHU DARMAYASA
PEDANDA SEBALI
I MADE TITIB
MADRA SUTA
JERO DUKUH SAMIAGA
Login Form
Username

Password

Remember me
Lost Password??
No account yet? Register
WEB LINK
WEB HINDU
Sanggar Telematika
DS TEGALINGGAH AMLAPURA
SANGGAR RIMO
Sanggar Telematika Desa Batuan
SANGGAR DESA TIGA BANGLI
SANGGAR UBUD KELOD
BLOG DESA BUGBUG
BANJAR CIANGSANA BOGOR
BLOG DESA SEDANG BADUNG
BLOG BANJAR NORWAY
BLOG BANJAR BELGIA
BANJAR SUKA DUKA BELANDA

Busana Upacara PDF Print E-mail
User Rating: / 0
PoorBest 
Written by admin   
BUSANA UPACARA PAÑCA YAJÑA
Prof. Dr. I Made Titib, Ph. D
The garments worn from Vedic time onwards
did not fundamentally differ from those worn
by Hindus in later times.
A.L.Basham, 1992: 212
Pendahuluan
Kata busanadari kata bhùûaóa dalam bahasa Sanskerta dan juga dalam bahasa Jawa Kuno mengandung arti hiasan, perhiasan, pakaian, dan pesta. Kata ini sering dirangkai dengan kata mahà-bhùûaóa, nàga-bhùûaóa, ràja-bhùûaóa, sa-bhùûaóa, sarwa-bhùûaóa,su-bhùûaóa (Bràhmàóða Puràóa 118, Udyoga Parwa 48, Uttarakàóða 24, Ràmàyaóa 6.117, Hariwangúa 32.113, Kidung Harsa Wijaya 1.74), (m)abhùûaóa, mengenakan atau memakai perhiasan (Ràmàyaóa 11.10, Hari Wangúa 34.6, Samara Dahana 24.14, Arjuna Wijaya 66.5), bhinuûaóa, bhinuûaóan, menghiasi (Àdiparwa 206, Ràmàyaóa 5.72, Bhàratayuddha 2.4, Abhimaóyu Wiwàha 16.8, Kidung Harsa Wijaya 2.43/Zoetmulder, 1, 1995: 144).
Dari pengertian tersebut di atas dapat dipahami bahwa kata bhusana pada pada mulanya memang berarti hiasan atau perhiasan (dari urat kata bhùû yang artinya menghias). Kini dalam kosa kata bahasa Indonesia, secara harfiah busana diartikan pakaian yang lengkap (yang indah-indah), busana yang tidak terlalu mewah (Panitia Penyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1988: 140). Bila bertolak dari pengertian yang terkandung dalam
 kosa kata bahasa Indonesia ini, maka topik tulisan busana upacara Yajña (khususnya busana adat Bali) mencakup berbagai aspek antara lain: aspek etika (kepantasan dan kesopanan), aspek estetika (keindahan) dan fungsinya dalam menutup tubuh pemakainya sehingga nyaman dan menyehatkan.
Tulisan dengan topik Busana Upacara Yajña ini secara khusus dan sepintas akan membahas busana upacara Yajña yang umum dikenakan oleh masyarakat Bali (tata busana budaya Bali), khususnya yang dikenakan oleh umat Hindu pada masyarakat Bali dewasa ini, baik yang tinggal di daerah Bali maupun etnis Bali di luar pulau Bali, termasuk masyarakat Bali beragama Hindu di pulau Lombok dan pulau-pulau lainnya di Indonesia termasuk di ibu kota propinsi, kabupaten atau kota dan bahkan umat Hindu di ibu kota negara Jakarta.
Busana dalam Veda dan susastra Hindu
A.L. Basham dalam bukunya The Wonder that was India (1992: 212) menyatakan bahwa busana yang dikenakan oleh umat Hindu sejak jaman Veda hingga masa dewasa ini, pada dasarnya tidaklah jauh berbeda. Seperti pada umumnya orang-orang yang hidup di musim panas di India, biasanya mengenakan kain panjang, menutupi hampir seluruh badan dan juga pundaknya, dan diikat dengan sebuah sabuk pengikat (ikat pinggang) dan beberapa peniti. Pakaian bagian bawah (paridhàna, vasana) pada umumnya berupa selembar kain, yang diikat melingkar pinggang dengan sebuah ikat pinggang atau seuntai benang (mekhalà, raúanà), dan pakaian bagian atas (uttariya) dari kain yang berbeda, yang diikat dengan sall menutupi pundak. Busana lainnya ditinggal di rumah karena musim panas (yang menyengat), umumnya tidak dikenakannya lagi. Busana yang ketiga (pràvàra) juga dikenakan, dililitkan seperti halnya sebuah mantel atau jubah yang dikenakan di musim dingin.
Pakaian tersebut umumnya dikenakan oleh laki-laki maupun perempuan, seperti halnya kini, dan variasinya hanyalah pada ukuran dan pola kain dan kebiasaan pemakaian mereka. Kadang-kadang pakaian bagian bawah ukurannya sangat kecil atau hanya berupa cawat (kaupina), tetapi ada juga yang panjang sampai menyentuh kaki. Pada peninggalan purbakala, pakaian dalam digambarkan sebagai yang penuh hiasan secara mendatar nampak dari depan, dan panjang dengan korset, ujung kainnya tergantung ke bawah di depan di antara ke dua kaki. Dalam beberapa ukiran korset muncul di ujung kain tersebut, yang juga ditaruh dipundak seperti kebiasaan mengenakan sàrì dewasa ini. Kadang-kadang ujung kain yang tergantung di antara kedua kaki diikatkan pada bagian belakang punggung seperti seseorang mengenakan dhotì (seperti halnya laki-laki Bali mengenakan ujung kancut di belakang punggung/lihat pula busana penari Mantri dalam pementasan Arja).
Meskipun pada umumnya semua kainnya tidak dijahit, seni jahit-menjahit belum dikenal, para wanita digambarkan mengenakan jaket atau korset (colaka, kañcuka). Dengan adanya invasi dari dinasti Úaka dan Kuûàóa dari Asia Tengah, diperkenalkan pakaian berupa celana panjang dan akhirnya merupakan mode bagi aparat pemerintah (penguasa) sampai dinasti Gupta, bagi raja-raja dinasti Gupta, sering ditemukan dalam koin mereka mengenakan celana panjang. Raja-raja dinasti Kuûàóa diperlihatkan dalam koin mereka, dan dalam hal yang luar biasa adalah pada patung tanpa kepala dari raja kaniûka, mengenakan jubah yang dijarit dengan pola terpotong (sambung-menyambung), celana panjang dengan model yang sama, mengenakan sepatu boot dengan tipe Asia, yang seharusnya tidak nyaman pada rata-rata temprature India seperti tebalnya pakaian Eropa yang dikenakan oleh pelopor perusahaan perdagangan India Timur. Pemakaian baju dan celana panjang sangat umum pada jaman pertengahan di Kashmìr dan di Barat daya. Pada masa pertengahan di India Selatan para dewi dan ratu-ratu digambarkan mengenakan celana panjang yang tipis dan ketat. Bahan-bahan untuk semua jenis kain bervariasi berupa bahan wool, dikenakan di bagian Utara di musim dingin, kain sutra dan kapas yang tipis, yang terlihat digunakan di bagian lengan pemakai.
Pada hampir di seluruh India terlihat menggunakan kaos kaki yang pada dasarnya digunakan untuk melindungi kaki dari sengatan tanah yang panas di musim panas dan di pegunungan Himalaya yang merupakan bagian dari Asia Tengah menggunakan pola sepatu boot. Pada kepala terdapat hiasan berupa ikat kepala, yang ikatan simpulnya memakai pola-pola tertentu. Pada masa yang silam, utamanya pada perayaan-perayaan tertentu, para wanita mengenakan hiasan kepala yang modelnya tidak nampak dewasa ini, tetapi pada jaman Gupta, ada yang tidak menggunakan hiasan kepala, atau menggunakan penutup kepala atau sejenis mahkota yang sederhana. Para Bràhmaóa ortodok, menggundul kepalanya dan hanya menyisakan sedikit rambut pada bagian tengah atas yang dibiarkan tidak dipotong (úikha/kuncir), tetapi pada kelompok lainnya baik laki-laki maupun perempuan membiarkan rambut mereka terurai panjang. Gaya potongan rambut yang populer di kalangan wanita adalah mengenakan sanggul yang besar di belakang kuduk, sering dihiasai dengan hiasan rambut dengan tusuk konde berisi permata. Gaya rambut yang dikuncir sangat umum hingga dewasa ini, dijumpai dalam peninggalan budaya Harappà, dan disebutkan di dalam beberapa literature, namun jarang muncul dalam bentuk ukiran sampai masa pertengahan.
Bila busana yang dikenakan nampaknya sederhana, namun hiasan (ornament) yang dikenakan nampak komplek dan beragam macam. Emas, perak, batu permata yang mahal nampak senantiasa tersedia dan merupakan kebutuhan untuk hiasan perorangan. Wanita mengenakan hiasan permata pada dahi mereka, pada bagian tertentu rambutnya. Cincin digunakan baik bagi laki-laki maupun perempuan. Anting-anting tergantung cukup berat dan hiasan yang banyak, seperti dilakukan oleh para wanita di daerah Tamil dewasa ini. Kalung hiasan leher, dengan hiasan emas dan rangkaian mutiara. Gelang tangan dan lengan dan gelang kaki yang dihiasi dengan bel yang kecil-kecil telah populer sejak jaman Harappà seterusnya populer hingga kini. Hiasan hidung, tanpa hiasan ini, wanita generasi tua India merasakan dirinya belum mengenakan hiasan, yang dimanapun digambarkan atau disebutkan dan sangat menyebar diterima sampai setelah penyerbuan Muslim ke India. Peninggalan purbakala menunjukkan betapa tinggi nilai dan mahalnya harga batu-batu mulia yang ditemukan dalam seni mereka (Basham, 1992: 212).
Pada jaman Veda ditunjukkan penggunaan kulit binatang seperti kulit kambing dan gazella dipakai sebagai penutup tubuh manusia (Atharvaveda V.21.7; Úatapatha Bràhmaóa V.2.1.21.24). Kata ajina yang berasal dari akar kata aja yang berarti seekor kambing dan dalam bentuk ajektif menjadi kata ajina vàsin menunjukkan penggunaan kulit binatang sebagai pakaian (Úatapatha Bràhmaóa III.9.1.12). Di dalam Ågveda para Marut digambarkan mengenakan pakaian dari kulit kijang (I.166.10), para Muni atau pertapa juga mengenakan pakaian dari kulit (X.136.2). Kata mala, muncul dalam beberapa mantra diinterpretasikan dalam kamus ST.Petersburg dictionary yang berarti busana dari kulit. Kata vàstra barangkali pada mulanya berarti kulit yang melindungi vàsa atau lemak dan kemudian berarti penutup atau pakaian. Di dalam kitab Aitareya Bràhmaóa (I.1.3) kita temukan informasi bahwa seseorang yang diinisiasi (dìkûà) ditutupi dengan sebuah vàstra, yakni dari kulit rusa jantan hitam (kåûóàjina). Penulis kitab-kitab Bràhmaóa menyatakan vàstra melambangkan penutup janin, kulit melambangkan rahim, dan upacara inisiasi melambangkan proses kelahiran baru (dapat dibandingkan dengan upacara amati raga dalam rangka upacara Dìkûa di Bali). Hal ini barangkali merupakan kebenaran, karena penggunaan kulit kijang sebagai penutup tubuh merupakan kebiasaan dan yang mendasar sebagai busana saat itu. Demikian pula penggunaan rumput kuúa sebagai pakaian atau alas tempat duduk, masih hingga kini diwarisi.
Pada masa kitab suci Ågveda disusun, peradaban bangsa Arya menunjukkan proses pembuatan kain dan pakaian dari wool bulu domba. Busana mereka umumnya menggunakan kain dari bahan wool, menunjukkan pada masa itu cuaca cukup dingin dan oleh karenanya diperlukan pakaian yang dapat menghangatkan tubuh. Kata Vàsa merupakan kata yang umum untuk menunjukkan pakaian (I.34.1; I.115.4; I.162.16; VIII.3.24; X.26.6, dan lain-lain dan dewa Pùûan disebut sebagai “penenun kain” (vàso-vàya/X.26.6). Dugaan kami bahwa proses pemintalan kain dari wool bulu domba telah dipelajari oleh bangsa Arya ketika masa tingkatan belajar, dan ketika itu Pùûan adalah devatà tertinggi. Ùróà atau wool sangat sering disebutkan di dalam Ågveda (IV.22.2; V.52.9). Negara Paruûóì dan negara-negara lainnya di tepi sungai Sindhu atau di lembah Indus sangat terkenal dengan wool mereka (Ågveda X.75.8), seperti Gandhàra yang sangat terkenal dengan domba-dombanya. Negara di lembah sungai Sindhu sangat terkenal sebagai Suvàsa (penghasil busana yang indah) dan kata “ùróavatì” (penghasil wool). Kata ùróa tidak hanya berarti bulu domba, tetapi juga kemungkinan bulu kambing (Abhinas, 1979: 212).
“Pakaian yang dikenakan sering juga disulam, dan Marut digambarkan sebagai yang mengenakan mantel yang dihias dengan emas” (Ågveda V.55.6, hiranmayàn atkàn). Varuóa juga digambarkan mengenakan pakaian berwarna keemasan (Ågveda I.25.13). Peúa di dalam Ågveda menunjukkan “pakaian yang disulam” (II.3.6; IV.36.7; VII.34.11. II.42.1) seperti halnya yang dikenakan oleh para penari wanita (Ågveda I.92.4-5).
Para wanita sangat gemar mengenakan pakaian yang indah dan menghias diri untuk menarik hati suaminya Ågveda IV.3.2; X.71.4; X.107.9). Busana yang dikenakan dibuat bagus dan nyaman menyenangkan (Ågveda III.39.2; V.29.15). Bagaimana bentuk pakaian pada jaman ketika Veda tersebut disusun? Muir sependapat dengan A.L.Basham di atas, yakni “bentuk busananya barangkali sama saja dengan orang Hindu modern, barangkali hanya beberapa perubahan, setelah Hindu bersentuhan dengan Muslim”. Hal ini nampak ketika penggunaan kurta-piyama baik bagi para wanita maupun laki-laki.
Demikian pula jenis dan penggunaan busana rupanya tidak begitu berbeda menurut informasi dari berbagai kitab susastra Hindu lainnya yang dapat dirujuk melalui kitab-kitab Itihàsa dan Puràóa. Singkatnya pakaian umat Hindu di india dewasa ini baik untuk keseharian maupun dalam pelaksanaan upacara yajña di India tidaklah jauh berbeda dengan tradisi lama. Para wanita menggunakan sàrì, dan yang laki-laki menggunakan baju dengan kain dhotì, seperti laki-laki Bali dengan ujung kancut terletak di belakang. Para pandita Vaidika umumnya tidak menggunakan baju pada saat memimpin upacara, sedang untuk pengikut Tantra terutama di beberapa tempat di Nepal dan India Timur (Benggala) menggunakan busana seperti pandita Hindu di Bali saat memimpin upacara yajña. Kini, dalam acara yang tidak terlalu formal baik wanita maupun laki-laki mengenakan kurta-piyama atau berpakaian seperti orang-orang Eropa modern.
Busana Upacara Yajña
Busana upacara yang dibahas dalam tulisan ini adalah terbatas pada tata busana adat Bali, yang dimaksud terbatas pada busana yang dikenakan masyarakat Bali pada saat pelaksanaan upacara Pañca Yajña. Pada dasarnya tata busana yang digunakan pada saat berlangsungnya upacara tersebut, yakni sesuai dengan konsepsi Tri Angga, yang terdiri dari:
a) Busana/pakaian pada Uttama Angga (kepala).
b) Busana/pakaian Madyama Angga (badan), dan
c) Busana/pakaian Kaniûþama Angga (dari pinggang ke bawah)
Dari ketiga unsur di atas dapat dibedakan antara pria dan wanita. Di samping itu penggunanan warna disesuaikan dengan jenis upacara Yajña yang bersangkutan. Apabila pelaksanaan upacara Dewa Yajña (misalnya persembahyangan) kendatipun dalam Keputusan Seminar Kesatuan Tafsir Aspek-Aspek Agama Hindu tidak disebutkan warna putih, demikian pula dalam pelaksanaan upacara Pitra Yajña (seperti Ngaben) pemakaian warna hitam, tetapi rupanya telah menjadi kesepakatan serta merupakan atmanastusti (úreddhaning cita) yaitu rasa kepuasan sesama umat Hindu untuk menggunakan warna putih (utamanya destar dan baju) bagi prianya di kala pelaksanaan upacara Dewa Yajña serta mempergunakan warna hitam pada waktu pelaksanaan upacara Pitra Yajña (Dinas Kebudayaan Proinsi Bali, 1994: 58), menurut hemat kami penggunaan warna agak gelap (kami tidak setuju dengan disebut warna hitam) hanyalah dalam upacara Ngaben (Palebon), sedang Pitra Yajña lainnya tetap berwarna putih atau krem (kuning susu/ muda) mengingat warna hitam tidak umum digunakan di masa yang silam di Bali maupun di India sejak dahulu hingga kini. Upacara Pitra Yajña di India, umat Hindu selalu mengenakan busana serba putih.
Sesuai dengan Keputusan Seminar Kesatuan Tafsir Tentang Aspek-Aspek Agama Hindu, tentang busana atau pakaian yang dikenakan dalam kaitan upacara Pañca Yajña adalah busana lengkap atau jangkep dengan rincian sebagai berikut:
Untuk Pria
Untuk Wanita
1.
Destar/Udeng
1.
Gelung biasa/sanggul
2.
Kawaca/baju (pendek/panjang)
2.
Baju Kebaya
3.
Kampuh dan Umpal
3.
Sasenteng
4.
Wastra/kain untuk kancut
4.
Wastra
5.
Sabuk
5.
Sabuk/stagen
6.
Alas kaki (fakultatif)
6.
Alas kaki (fakultatif)
7.
Keris (fakultatif)
Dalam pembinaan Sekehe Taruna maupun Desa Adat mengenai pemakaian Sanggul dapat dibedakan antara yang belum kawin dan yang telah berkeluarga (kawin), yakni:
1) Bagi yang masih remaja (taruni) memakai sanggul lepas (pusung gonjer).
2) Bagi yang telah berkeluarga memakai sanggul ikat (pusung tagel).
Pada saat-saat tertentu sesuai dengan pelaksanaan upacara Yajña tersebut mempergunakan busana payas gede/agung misalnya terkait dengan pelaksnaan upacara Dewa Yajña diselenggarakan Paed (pawai), ada juga menyebutnya dengan istilah Deeng. Dalam hal ini busana yang dikenakan adalah busana payas gede/agung, yang rinciannya sebagai berikut:
Untuk Pria
Untuk Wanita
1.
Destar/Udeng
1.
Gelung Agung
2.
Keris
2.
Sinjang
3.
Kampuh lembaran
3.
Sasenteng
4.
Wastra/kain untuk kancut
4.
Wastra
5.
Sabuk
5.
Bulang/Stagen
6.
Alas kaki (fakultatif)
6.
Sabuk hiasan
7.
Kelengkapan perhiasan
7.
Alas kaki (fakultatif)
a. Destar/diganti dengan gelung
8.
Kelengkapan perhiasan
Garuda mungkur
a. Petitis/garuda mungkur
b. Rumbing/Anting-anting
b. Tajug/sekar taji
c. Bebadong
c. Bebadong
d. Sasimping
d. Sasimping
e. Gelang Kana
e. Gelang Kana
f. Gelang Biasa
f. Gelang Biasa
g. Gelang Kaki
g. Gelang Kaki
h. Ali-ali
h. Ali-ali
i. Kain panjang disambung/lancingan
i. Papelik/tampel pelengan
j. Subeng
k. Pending
l. Ampok-ampok
Penggunaan busana payas agung di samping dipergunakan seperti tersebut di atas juga dipakai pada upacara Manusa Yajña yakni pada upacara Matatah atau Mapandes dan Pawiwahan. Di daerah Badung utamanya di Kota Madya Denpasar dikenal payas lalunakan, yang gelung atau garuda mungkurnya diganti dengan hiasan kepala berupa Tengkuluk/Lalunakan yang pada umumnya hanya digunakan pada upacara Mamukur.
Lebih jauh diperinci busana untuk upacara Dewa Yajña, sebagai berikut:
Sembahyang untuk pria
Sembahyang untuk wanita
1.
Destar/Udeng
1.
Gelung biasa/sanggul
2.
Kawaca/baju (pendek/panjang) putih
2.
Baju Kebaya
3.
Kampuh kuning dan Umpal
3.
Sasenteng
4.
Wastra/kain untuk kancut
4.
Wastra
5.
Sabuk
5.
Sabuk/stagen
6.
Alas kaki (fakultatif)
6.
Alas kaki (fakultatif)
7.
Keris (fakultatif)
Ngayah busana madia untuk pria
Ngayah busana madia untuk wanita
1.
Kawaca/baju
1.
Baju Kebaya
2.
Kampuh
2.
Sasenteng
3.
Wastra/kain untuk kancut
3.
Wastra
4.
Sabuk/umpal
4.
Sabuk/stagen
5.
Alas kaki (fakultatif)
5.
Alas kaki (fakultatif)
Ngayah busana alit untuk pria
Ngayah busana alit untuk wanita
1.
Kawaca/baju
1.
Baju Kebaya
2.
Selempot
2.
Sasenteng
3.
Wastra/kain untuk kancut
3.
Wastra
4.
Sabuk/umpal
4.
Sabuk/stagen
5.
Alas kaki (fakultatif)
5.
Alas kaki (fakultatif)
Busana untuk upacara Åûi Yajña, sebagai berikut:
Untuk Pria
Untuk Wanita
1.
Destar/Udeng
1.
Sanggul (Pusung Tagel/Gonjer)
2.
Kawaca/baju (pendek/panjang)
2.
Baju Kebaya Putih
3.
Kampuh dan Umpal berwarna putih
3.
Sasenteng warna kuning
4.
Wastra/kain untuk kancut
4.
Wastra batik, endek
5.
Sabuk
5.
Sabuk/stagen
6.
Alas kaki
6.
Alas kaki (tidak berhak tinggi)
Busana untuk upacara Manusa Yajña (Ngraja Sawala, Mapanes, Pawiwahan)
Untuk Pria
Untuk Wanita
1.
Destar/Udeng Songket
1.
Sanggul(Pusung Tagel/Gonjer/Lelunakan)
2.
Kawaca/baju pria segala model
2.
Baju Kebaya tidak putih dan tidak hitam
3.
Kampuh dan Umpal Songket
3.
Sasenteng Songket
4.
Wastra songket,endek,batik,dll.
4.
Wastra songket, batik, endek, dll.
5.
Alas kaki menurut selera
5.
Alas kaki menurut selera
Busana untuk upacara Pitra Yajña (Nanem Sawa, Ngaben, Majenukan)
Untuk Pria
Untuk Wanita
1.
Destar/Udeng Batik warna gelap
1.
Sanggul (Pusung Tagel/Gonjer/)
2.
Kawaca/baju pria warna gelap
2.
Baju Kebaya
3.
Kampuh dan Umpal warna gelap
3.
Sasenteng warna agak gelap
4.
Wastra endek,batik,dll.
4.
Wastra batik, endek, dll.
5.
Alas kaki menurut selera
5.
Alas kaki menurut selera
Busana untuk upacara Pitra Yajña (Nyekah atau Mamukur)
Untuk Pria
Untuk Wanita
1.
Destar/Udeng warna Putih
1.
Sanggul (Pusung Tagel/Gonjer/)
2.
Kawaca/baju pria warna putih
2.
Baju Kebaya warna putih
3.
Kampuh warna kuning, tepi putih dan umpal
3.
Sasenteng warna kuning
4.
Wastra endek,batik,dll.
4.
Wastra batik, endek, dll.
5.
Alas kaki menurut selera
5.
Alas kaki menurut selera
Busana untuk upacara Bhùta Yajña
Untuk Pria
Untuk Wanita
1.
Destar/Udeng warna Putih
1.
Sanggul (Pusung Tagel/Gonjer/)
2.
Kawaca/baju pria warna putih
2.
Baju Kebaya warna putih
3.
Kampuh warna kuning, tepi putih dan umpal
3.
Sasenteng warna kuning
4.
Wastra endek,batik,dll.
4.
Wastra batik, endek, dll.
5.
Alas kaki menurut selera
5.
Alas kaki menurut selera
Penutup
Demikian antara lain busana upacara Panca Yajña tentunya disesuaikan dengan situasi dan kondisi setempat. Bagi umat Hindu etnis luar Bali seperti etnis India, Batak, Jawa, Dayak, Toraja, Bugis, Ambon dan lain-lain dapat menggunakan busana adat setempat.
Last Updated ( Friday, 28 November 2008 )
 

© 2007 E - Banjar Team e-banjar portal web site