BANJAR ONLINE
HOME
SEARCH
BANJAR SAMATRA
FAQ
MAWIRASE
Buku Tamu
PABLIGBAGAN
Hit Counter
024057081
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari Ini1589
mod_vvisit_counterKemarin1854
mod_vvisit_counterMinggu Ini10328
mod_vvisit_counterBulan Ini22047
mod_vvisit_counterSeluruhnya453219
DHARMAWACANA
PEDANDA GUNUNG
PRABHU DARMAYASA
PEDANDA SEBALI
I MADE TITIB
MADRA SUTA
JERO DUKUH SAMIAGA
Login Form
Username

Password

Remember me
Lost Password??
No account yet? Register
WEB LINK
WEB HINDU
Sanggar Telematika
DS TEGALINGGAH AMLAPURA
SANGGAR RIMO
Sanggar Telematika Desa Batuan
SANGGAR DESA TIGA BANGLI
SANGGAR UBUD KELOD
BLOG DESA BUGBUG
BANJAR CIANGSANA BOGOR
BLOG DESA SEDANG BADUNG
BLOG BANJAR NORWAY
BLOG BANJAR BELGIA
BANJAR SUKA DUKA BELANDA

RAMAYANA & MAHABARATA PDF Print E-mail
User Rating: / 0
PoorBest 
Written by admin   

RAMAYANA & MAHABARATA


Sumber Ajaran Moralitas, Sejarah, dan Karya Sastra
 

Prof. Dr. I Made Titib, Ph. D
 

Idaý pavitram pàpaghnam puóyaý devaiúcca,
Yaá pathed ràmacaritaý sarvapàpaiápramucayte
 

Úrìmadvàlmìkìya I.1.98.

 

Siapa saja yang membaca ceritra Úrì Ràma, akan menyucikan, melenyapkan
dosa, menjadi suci, dan tingkatan phalanya sama dengan mempelajari dan
mengamalkan ajaran suci Veda, akan dibebaskan dari segala dosa
 

Pendahuluan

Dalam ajaran agama Hindu, Tuhan Yang Maha Esa dipuja dalam berbagai nama dan digambarkan dalam berbagai bentuk, baik personal (berpribadi) maupun impersonal (tidak berpribadi). Salah satu nama dan wujud-Nya adalah Sarasvatì yang digambarkan sebagai seorang dewi yang amat cantik, sebagai penguasa ilmu pengetahuan, seni dan budaya. Umat Hindu di India memuja dewi Sarasvatì dalam rangkaian hari-hari besar keagamaan, khususnya pada hari Dìpavali (peringatan menyambut kemenangan Úrì Ràma ketika kembali dari Alengka pada saat malam hari dengan menyalakan lampu di seluruh jalan di seluruh kota dan desa) yang datang setiap tahun pada bulan Oktober-Nopember, sedang umat Hindu di Bali memuja-Nya dalam perayaan khusus yang jatuh pada hari terakhir dari Wuku terakhir, sekaligus juga pada hari pertama dari wuku pertama, tepatnya hari Sabtu Umanis Watugunung (Odalan Sang Hyang Aji Sarasvatì) dan hari Banyu Pinaruh yang datang setiap 210 hari sekali menurut perhitungan kalender tahun Wuku.
 

Dalam pemujaan kepada dewi Sarasvatì, pembacaan karya sastra (arûakàvya) merupakan hal yang wajib dilakukan. Umat Hindu di India, setiap kali sembahyang, pada umumnya selalu diikuti dengan meditasi dan pembacaan kitab suci Veda atau karya sastra (arûkàvya) seperti Itihàsa dan Puràóa, menyimak makna yang terkandung dalam kitab suci Veda maupun karya sastra tersebut. Tulisan ringkas ini, sesuai dengan topik yang diketengahkan akan mengkaji Itihàsa, khususnya Ràmàyaóa dan Mahàbhàrata dalam tiga aspek utama, yakni ajaran moralitas, sebagai sumber sejarah dan karya sastra.
 

Melalui Diskusi Agama Hindu atau Dharma Tula yang dilaksanakan menyambut hari Pahlawan 10 November dan hari Margarana 22 November dengan membahas berbagai ajaran yang terkandung dalam Ràmàyaóa dan Mahàbhàrata kiranya sangat relevan dewasa ini mengingat semakin terjadinya degradasi moralitas bangsa Indonesia yang bila tidak ditangani dengan baik akan menjerumuskan bangsa ini pada kehancuran total.
 

Peranan Itihàsa dan Puràóa
dalam agama Hindu

Bagi umat Hindu baik Itihàsa maupun Puràóa sangat penting peranannya dalam menjelaskan dan menyebarkan ajaran yang terkandung dalam kitab suci Veda, sebagai dinyatakan dalam kitab Vàyu Puràóa berikut:
 

Itihàsa puràóabhyàý vedaý samupbåhayet,
bibhetyalpaúrutàd vedo màmayaý prahariûyati.

Vàyu Puràóa I.201.

 

(Hendaknya Veda dijelaskan melalui sejarah (Itihàsa) Veda dan sejarah deva-deva dan raja-raja (Puràóa). merasa takut kalau seorang bodoh membacanya.Veda berpikir bahwa dia (orang yang bodoh)akan memukulku).
 

Úloka Vàyu Puràóa di atas, pada jaman kejayaan majapahit diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa Kuno termuat dalam kitab Sasamuccaya yang merupakan karya kompilasi dari mahàrûi Vararuci sebagai berikut :
 

Ndan Sang Hyang Veda paripùróakêna sira,
maka sàdhana sang hyang Itihàsa,sang hyang
Puràóa, apan atakut sang hyang Veda ring
wwang akêdik ajinya, ling nira, kamung hyang
haywa tiki umàra ri kami ling nira mangkana
rakwa atakut
.

Sarasamuccaya 39.

 

(Veda itu hendaknya dipelajari dengan sempurna melalui
jalan mempelajari Itihàsa dan Puràóa sebab Veda itu akan
takut kepada orang-orang yang sedikit pengetahuannya,
sabdanya:wahai tuan-tuan jangan datang padaku,demikian
konon sabdanya karena takut).

 

Kitab Chàndogya Upaniûad (VII.1.2) yang merupakan salah satu kitab Úruti secara tegas menyatakan bahwa kedudukan kitab-kitab Itihàsa dan Puràóa sebagai Veda yang ke-5 (Itihàsapuràóaý pañcamaý vedànàý vedam). Menurut Dr.O.N.Bimali dan Isvar Chandra, dengan mengacu kepada kitab Mahàbhàrata, sebagai bagian dari Itihàsa, maka Itihàsa (dan sekaligus kitab-kitab Puràóa) bermanfaat sebagai:
 

1) Pustaka (literary significance). Dari sudut pandang pustaka (literature), kitab-kitab Itihàsa dan Puràóa mengandung makna yang sangat penting. Hampir semua “rakavi” (pengarang) sangat tergantung dan mendapat inspirasi dari karya sastra tersebut. Barangkali semua karya sastra Sanskerta (juga termasuk Jawa Kuno),tidak ada yang terlepas dari karya sastra tersebut. Semua karya sastra tidak terlepas dari karakter Itihàsa dan Puràóa.
 

2) Sebagai ensiklopedi. Mahàbhàrata (sebagai bagian dari Itihàsa) dan juga Puràóa merupakan ensiklopadi abadi, dan bukan merupakan ensiklopedi hari atau masa tertentu seperti halnya ensiklopedi dewasa ini. Di dalamnya kita menemukan semua pengetahuan dan sains pada masa yang amat tua (relevan hingga kini), hukum, pandangan hidup, sejarah, mitologi, fabel dan legenda, kepercayaan (agama) yang sangat populer, tradisi dan praktek kehidupan sosial, doktrin-doktrin tentang pengetahuan umat manusia dan ajaran suci (úraddhà). Di dalamnya juga terdapat bagaimana cara dan seharusnya hidup sebagai manusia, kebahagiaan keluarga seperti pula kebahagiaan spiritual. Seseorangakan kagum, semuanya tersebut dalam satu teks. Sungguh karya-kartya itu merupakan teks-teks yang sangat besar penuh uraian tentang berbagai hal, dongeng, pedoman tingkah laku, agama dan budaya. Sarjana Barat seperti Dr. Winternitz menyatakan manfaat Mahàbhàrata sebagai berikut: “Kita menemukan dalam karya sastra yang agung dan menarik ini berbagai hal demikian berkaitan, lagu-lagu kepahlawanan dengan diskripsi pandangan mata tentang perang yang berdarah, pandita “rakavi” yang sangat budiman, yang menekankan berbagai hal tentang pendidikan, juga filsafat, ajaran agama, hukum dan ajaran spiritual yang penuh kebijaksanaan, cinta kasih terhadap kemanusiaan dan semua ciptaan-Nya”. Demikian tegas bahwa kitab-kitab tersebut merupakan ensiklopedi, sejarah nasional, dan sekaligus dokumen sosial keagamaan pada masa itu.
 

3) Sejarah (historical significance). Data yang diungkapkan dalam karya sastra di atas juga amat penting bagi penyusunan sejarah. Hal ini dapat dibuktikan dari silsilah raja-raja seperti Candravaýúa yang menurunkan Pandava dan Kaurava. Mereka merupakan keturunan dari dinasti Kuru yang hidup di India Utara ribuan tahun yang silam.
 

4) Kebudayaan (culture significance). Kitab Mahàbhàrata (seperti halnya Ràmàyaóa) merupakan kitab yang sangat penting dari sudut pandang kajian budaya. Merupakan potret yang asli dari kebudayaan dan peradaban yang disiapkan oleh kitab Mahàbhàrata dan karya sastra lainnya.
 

5) Agama (religion significance). Kitab Mahàbhàrata, yang merupakan salah satu dari kitab Itihàsa juga Puràóa di india disebut sebagai Veda yang ke-5. Hal ini sesuai pula dengan Chàndogya Upniûad (VII.1.2/ Itihàsapuràóaý pañcamaý vedànàý vedam) seperti tersebut di atas.
 

6) Sosial (social significance). Kitab Mahàbhàrata (juga Ràmàyaóa) adalah kitab yang di dalamnya mengandung ilmu-ilmu sosial (social sciences). Permasalahan sosial yang berkaitan dengan moralitas, etnik, pendidikan, seksualitas, pandangan psikologi dan sebagainya yang dikaji ecara mendalam.
 

7) Politik (political science). Mahàbhàrata (juga Ràmàyaóa) di dalamnya terkandung ilmu pengetahuan tentang ekonomi dan politik. Kedua ilmu tersebut dikaji dengan baik. Di dalam Úàntiparva, dijelaskan bagaimana seharusnya pemerintah memiliki moralitas agama yang kuat. Sungguh mengejutkan di dalam kitab tersebut diuraikan dengan pikiran dan pengetahuan yang mendalam tentang ilmu politik dan ekonomi pada masa itu. Taktik dan strategi memenangkan perang merupakan satu karakteristik yang unik dan alami. Hal itu ditunjukkan secara praktis untuk membangkitkan kesadaran seseorang tentang kebenaran, penghargaan kepada wanita, tugas dan kewajiban masyarakat menurut profesi (Warna) dan lain-lain.
 

8) Geografi (geografical significance). Di dalam Mahàbhàrata juga dijumpai ilmu pengetahuan tentang geografi. Di dalam Vanaparva dijelaskan secara panjang lebar tentang topografi India (juga di luar India) tentang sungai-sungai, gunung-gunung, dan tempat-tempat suci untuk Tìrthayàtra. Kesimpulannya kitab Mahàbhàrata dapat dikaji dari berbagai sudut pandang ilmu pengetahuan (Dutt, 2001: X).
 

Demikian sepintas tentang peranan Itihàsa dan Puràna (yang di dalamnya termasuk Ràmàyaóa dan Mahàbhàrata) dalam agama Hindu, utamanya sebagai ajaran moralitas, filsafat, pendidikan dan sebagainya.
 

Itihàsa sebagai sumber ajaran moralitas

Mahàrûi Vàlmìki adalah seorang filosof moral realistik, dia menginterpretasikan hukum dharma yang dalam prakteknya berguna bagi mahkluk hidup, melalui ini bisa membuat karakter dan nilai asosiasi untuk masyarakat serta lebih tinggi dari ukuran nilai eskatologi abstrak. M.A. Buch mengatakan, “Teori etika Hindu adalah koherensi organik dimana pengalaman dan alasan bercampur bersama-sama, selalu dinamis. Lingkungan diambil ke dalam hitungan meski tanpa putus sejak masa lalu. Ini barangkali paling benar tentang Vàlmìki. Saya telah mencoba mengembangkan ide ini sebagai poin utama dalam thesis saya. Saya juga menghormati beberapa halaman untuk menunjukkan bahwa Ràmàyana merupakan ajaran moral Hindu laksana batu yang tidur. Dalam tokoh Ràma, Lakûamaóa dan Bhàrata merupakan suatu contoh persaudaraan yang tiada bandingnya. Hanumàn merupakan seorang penyembah sebagai pelayan dan Sita adalah istri yang sebenarnya, dalam kerajaan yang idel dalam persahabatan kita memiliki keperluan hakiki daripada moralitas kehidupan yang lengkap setiap umat Hindu untuk kabajikan moral dan sosial. Gambaran kami terhadap kehidupan moral tidak akan lengkap sampai perlakuan anti sosial dan kejahatan setiap orang pada koridor waktu juga digambarkan. “Orang Yunani kuno menekankan kesempurnaan fisik dan kebaikan intelektualitas sebagai tujuan dari kehidupan manusia, Hindu kuno menekankan kepada kesempurnaan kehidupan di dunia, kepemilikan, kebahagiaan, kenikmatan seksual, kehidupan keluarga, kenikmatan, tetapi tidak seluruhnya dan secukupnya, kesempurnaan tentang seksualitas ini orang harus mengeraskan jalan untuk kesempurnaan spiritual manusia”. Ini merupkan tujuan Vàlmìki dan saya mencoba membawanya keluar secara penuh dalam aspek-aspek yang berbeda Vàlmìki tidak pernah dibayang-bayangi oleh ketakhayulan religius, ortodox atau metafisika. Dia telah mempresentasikan kepada kita kenyataan-kenyataan kongkrit yang mana kita dapat tiba pada keterangan dan dugaan nyata tentang pandangan pragmatis realistik tentang Dharma yang selalu relatif terhadap ruang dan waktu (Bhattacharji, 1984, 108).
 

E.W. Hopkins, Mc Kenzie, Farquhar dan beberapa sarjana Barat yang dipengaruhi oleh standar etika Kristiani yang telah gagal untuk mengerti tentang signifikansi kebenaran dari pada hukum dharma. Penyangkalan terhadap kenyataan ini sering terbawa pada situasi kritik menuntut bahwa tiada mencoba dibuat oleh para pemikir Hindu untuk pengembangan pengetahuan moralitas. Tanpa diragukan lagi bahwa di dalam kontradiksi dengan para pemikir Barat tiada terpisahkan uraian yang ditulis di India pada pokok-pokok vital seperti di bawah ini, meski saya siapkan keutamaan bahwa ajaran Vàlmìki bukan merupakan teori akademis, dia memenuhi kewajiban besar ini dalam karya Ràmàyana miliknya. Dia menyasar moral ideal dalam kehidupan dalam karakter yang terkemuka. Rai Sahib Dineshchandra Sen sangat jelas melihat bahwa “ puisi-puisi epos dalam segala zaman dan negara memberikan ekspresi terhadap ide yang mengambang di udara di antara dia, mentransmisikan bangsanya secara sering dari waktu yang telah lama. Ide nasional dan kebudayaan mengklaim dia sebagai eksponen yang paling pandai bicara. Ceritera tentang kepahlawanan, tentang kebaikan yang tanpa noda dan kemanusiaan yang ideal yang dari zaman ke zaman menginspirasikan suatu ras, yang tersimpan, untuk dibicarakan, di dalam menghimpun puisi-puisi epos. Tradisi kuno mungkin menjadi baru dan menjadi interpretasi yang sesuai dengan perkembangan zaman di tangan ahli-ahli epos. Ini merupkan pegangan yang baik daripada Ràmàyana (Ibid, 210).
 

Masalah–masalah tentang takdir dan teori tentang karma sangat ditonjolkan di dalam Ràmàyana. Ràma, dalam jalan yang tidak biasanya, menekankan jalan nasib yang muncul pada umat manusia dan meski secara panajang lebar menyangkal doktrin tentang keinginan yang bebas, menyatakan bahw Kaikayi mengucilkan dirinya namun dia tidak mungkin terhina. Tetapi kita lihat bahwa Vàlmìki melalui Laksmana yang menolak doktrin yang kaku. Saya mencurahkan bab yang khusus untuk kritik problem ini, yakini pandangan semua orang yang menyatakan bahwa teori karma sebagai sentral doktrin daripada Hinduisme yang meninggalkan skala moralitas. Itu ditunjukkan bahwa perlakuan karya Vàlmìki meninggalkan bekas sebagai suatu doktrin tentang takdir, seringkali dikhayalkan sebagai keinginan Tuhan atau beberapa kekuasaan supra natural lainnya terhadap manusia-manusia yang lemah yang tidak ditemukan.
 

Melalui pendahuluan, ijinkanlah saya mengatakan sebuah kata atau dua buah kata tentang karya di bawah penilaian saya : India kuno merupakan guru besar dalam hal penulisan, dan di luar tulisan awal datang suatu kelompok khusus berupa karya seperti Smrti dan Dharma Sastra yang ditulis oleh “ Manu, Atri, Visnu, Harita, Yajnavalkya, Usana, Angira, Yama, Apastamba, Samvarta, Katyayana, Brhaspati, Parasara, Vyasa, Sanka, Likhita, Daksa, Gautama, Satatapa dan Vasistha. Kitab-kitab tersebut merupakan hukum agung yang diikuti oleh sejumlah komentator yang dalam pandangan tentang perubahan keadaan mencoba untuk menginterpretasikan kitab-kitab tersebut dalam penjelasan dari fakta-fakta baru. Saya berpegangan kepada Vàlmìki sebagai seorang eksponen yang agung yang melalui sarana puisi-puisi tersebut mengekspresikan interpretasi mereka tentang hukum dharma. Semua itu, pentingnya Ràmàyana sehingga menjadi dua bagian. Dan merupakan kitab sebagai kamus kecil tentang referensi moral. Ini menjadi universal disebabkan oleh daya trik untuk menjernihkan dengan pemikiran-pemikiran mulia yang diekspresikan. Ketika tidak mengklaim menjadi suatu perlakuan moral itu dicoba mengkombinasikan agama dan moralitas sebagai cara komprehensif untuk melibatkan segmen kehidupan manusia. Sesungguhnya merupakan kebanggaan bagi kami sebagai catatan yang bagus tentang kehidupan moral oleh umat manusia seperti kami. Ràmàyana mungkin menggambarkan sebagai suatu pedoman moral dimana tanpa memasukkan dalam tekniknya secara detail yang akan membimbing pembaca dalam menghadapi kewajiban-kewajiban hidup. “ Ini memberi petunjuk terhadap prinsip secara umum oleh keluarga dan kehidupan rumah tangga juga diatur, secara spesifikasi sejumlah kasus yang paling mugkin terjadi sebenarnya “ Ini merupakan ekspresitentang penyelidikan etika dan semangat religius. Ada penulis tentang mural yang diberikan secara abstrak dan prinsip formal tentang moralitas, yang sering tidak dipraktekkan sebab merupakan kontek di luar kehidupan, tetapi Vàlmìki memberikan contoh kongkret tentang prinsip-prinsip kebenaran daripada perbuatan manusia secara nyata atau situasi-situasi yang mungkin..
 

Seperti halnya Ràmàyaóa, kitab Mahàbhàrata sangat sarat dengan ajaran moralitas yang merupakan pegangan umat manusia sepanjang jaman. Kitab Bhagavadgìta sebagai bagian dari Bhìûmaparva mengisyaratkan dilema moralitas yang sangat relevan dengan situasi moralitas dewasa ini. Maju bertempur ke medan perang untuk menegakkan kebenaran atau tunduk pada jerat-jerat duniawi, arogansi, kegelapan pikiran dan sebagainya. Berikut kami kutipkan beberapa di antara ajaran moralitas tersebut:
 

Idaý pavitraý pàpaghnaý puóyaý vedaiúca sammitam,
yaá paþhed ràmacaritaý sarvapàpaiá pramucyate.
 

Etadàkhyànamàyuûyaý paþhan ràmàyaóaý naraá,
saputrapautraá sagaóaá pretya svarge mahìyate.
 

paþhan dvijo vagåûabhatvamìyàt bhùmipatitvamìyàt,
vaóigjanaá puóyaphalatvamìyaj janaúca sudro’pi mahàttvamìyàt”.
 

Úrìmadvàlmìkìya Ràmàyaóa I.1.98-100.

 

“Siapa saja yang membaca ceritra Úrì Ràma ini akan disucikan dibebaskan dari dosa, menjadi suci dan seimbang besar pahalanya dengan membaca seluruh kitab suci Veda. Pembacaan ini akan menjauhkan segala dosa yang dilakukan’.

 

‘Seseorang yang membaca ceritra Ràmàyaóa ini akan memperoleh umur panjang dan setelah meninggal akan memperoleh kebahagiaan di sorga bersama putra-putranya, cucu-cucunya, dan pengikutnya’.

 

‘Seorang cendekiawan (bràhmaóa) menjadi mulia, politisi (kûatriya) menjadi penguasa di bumi, seorang bisnismen (vaiúya) memperoleh keberuntungan dari bisnisnya dan bahkan seorang pekerja (úùdra) pun akan memperoleh kebesaran/kemuliaan’.
 

Na jàyate mriyate và kadàcit nàyaý bhùtvà bhavità và na bhùyaá, Ajo nityaá úàsvato’yaý puràóo Na hanyate hanyamàne úarìre.

 

Bhagavadgìtà II.20.
 

‘Jìwa ini tidak terlahirkan dan tidak pernah binasa. Baik di masa lampau maupun di masa datang, ini juga tak akan terjadi. Hanya badan yang rusak (binasa) sedangkan jiwa tidak’.
 

Mayi sarvàói karmàói saýnyasyàdhyàtma cetasà,

Niràúìr nirmamo bhùtvà yudhyasva vigata jvaraá.
 

Bhagavadgìtà III.30.

 

‘Persembahkanlah segala pekerjaan kepada-Ku dengan memusatkan pikiran kepada-Ku. Lepaskanlah dirimu dari pamrih dan rasa keakuan serta bangkitlah,engkau akan terbebas dari pikiran yang susah’.
 


Yasmin yathà vartate yo manuûyaá tasminstathà vartitavyaý sa dharmaá, màyàcàrì màyayà pratyupeyaá, sadhvàcàrì sàdhunà pratyupeyaá.
 

Mahàbhàrata Úànti Parva
 

‘Sebagaimana orang-orang menerima pergaulan, seperti itu pula hendaknya ia memberi pergaulan. Bergaul dengan orang jahat dihadapi dengan kekerasan, pergaulan dengan orang-orang baik dibalas dengan kebaikan).
 

Na narmayuktaý vacanaý hinàsti na striûu ràjan na vivàhakàle, pràóatyaye sarvadhanàpahàre pañcà nåtànyàhur apatakàni.
 

Mahàbhàrata Úànti Parva
 

‘Wahai Raja,ada lima macam kebohongan yang dianggap tidak berdosa, yaitu pada waktu bermain-main, di saat perkawinan,dalam keadaan jiwa terancam bahaya, di saat kemusnahan harta dan berbohong dengan wanita yang tidak baik’.
 

Àragyamànåóyamavipravasàá arthàgamo nityamarogità ca

priyàca bhàryà priyavàdinì ca,sad jivalokasya sukhàni Ràjan.
 

Mahàbhàrata Úànti Parva
 

‘Wahai Raja, ada enam jenis kesukaan di dunia ini yaitu: kekuasaan yang baik, tidak punya hutang, tidak tinggal di negara lain, memiliki sumber penghasilan, tidak pernah sakit, dan istri cantik yang bertutur kata manis menarik’.
 

Àcàràllabhate hyàyuràcàrallabhate úrìyam

Àcàrat kirtimàpnoti puruûaá pretya echa sa.
 

Mahàbhàrata Anuúàsana Parva 104.6

‘Tingkah laku yang baik menyebabkan umur panjang, tingkah laku yang baik menyebabkan kemakmuran dan bergaul dengan baik orang memperoleh kemasyuran dalam hidup ini maupun dalam hidup setelah meninggalkan badan’.
 

Ûaðdoûaá puruûeóeha hàtavya bhùtimicchatà
Nidrà tandrà bhayaý krodhaý àlasyaý dirgasùtrata.
 

Mahàbhàrata Udyogaparva 33.78
 

‘Orang yang menginginkan kesejahtraan di dunia ini, dia harus neninggalkan enam jenis sifat-sifat yang tidak baik yaitu : suka tidur, malas, takut, marah, tidak bersemangat, dan selalu mengulur waktu untuk menyelesaikan pekerjaan’.
 

Paràpavàdaý na brùyàd nàpriyaý na kadàcana

Na manyuá kaúcidutpàdyaá puruûena bhavàrthinà.
 

Mahàbhàrata Anuúasana Parva 104.105.

‘Tidak menghina orang lain, tidak mengeluarkan kata-kata yang tidak menyenangkan orang lain, tidak marah dengan orang lain, dan dengan kelakuan seperti itu orang-orang bisa memperoleh kemajuan’.
 

Pràninamavadhastàta sarvajyàyàn mato mam
Ànåtaý và vaded vàcaý na tu hiòyet kathañcana
.
 

Mahàbhàrata Karna Parva 69.23.
 

‘Wahai Saudara, pendapatku adalah bahwa tidak menyakiti mahluk hidup lain adalah kegiatan yang paling baik. Orang boleh berkata-kata bohong, tetapi dalam segala hal tidak boleh membunuh mahluk lain’.
 

Yathà yathaiva jìveddhi tat kartavyamahelayà

Jìvitaý maraóàtsreyo jìvan dharmamavàpnuyàt.
 

Mahàbhàrata Úàntiparva 141.65.
 

‘Dengan cara bagaimana pun kita bisa melindungi jiwa mahluk lain, dengan penuh perhatian lakukanlah usaha itu. Dibandingkan dengan kematian, hidup adalah jauh lebih baik. Karena dengan hidup kita bisa memperoleh Dharma (menunaikan kewajiban-kewajiban (Mishra, 1990:16)’.
 

Demikian sepintas uraian tentang Ràmàyaóa dan Mahàbhàrata sebagai ajaran moralitas yang sesungguhnya merupakan penjabaran ajaran suci Veda yang diuraikan dalam kitab-kitab Itihàsa tersebut.
 

Itihàsa sebagai sumber sejarah

Untuk membuktikan bahwa Itihàsa dan Puràóa sebagai karya sastra sejarah dapat dijadikan sebagai sumber data penyusunan sejarah perkembangan agama Hindu untuk itu tentu diperlukan kajian yang mendalam untuk membuktikan kebenaran data yang digunakan. Itihàsa, khususnya Ràmàyaóa dan Mahàbhàrata secara terus menerus diteliti oleh para akhli sejarah. Berbagai data epigrafis, arkeologis, tradisi terus diteliti dan semakin hari banyak dilakukan penggalian untuk membuktikan kebenaran kedua epos besar itu.
 

Peninggalan epigrafis dan arkeologis yang berhubungan dengan Itihàsa khususnya Ràmàyaóa dan Mahàbhàrata masih dapat dijumpai di India, misalnya peninggalan-peninggalan purbakala di Ayodhya, Citrakuta, Ràmeúvaram dan juga bekas kota Indrapraûþha, Kurukûetra, tempat-tempat suci yang berhubungan dengan sungai Ganggà, Yamunà dan sungai-sungai suci lainnya, termasuk pula pertapaan-pertapaan seperti pertapaan maharsi Vyàsa di Badrinatha (di lereng pegunungan Himalaya) yang kini tempat-tempat bersejarah itu ramai dikunjungi oleh umat Hindu untuk melaksanakan Tìrthayàtra.
 

Perang besar keluarga Bhàrata (Mahàbhàratayuddha) berlangsung pada tahun tahun 3.l38 Sebelum Masehi yang merupakan masa akhir dari jaman Dvapara Yuga. Keterangan ini berdasarkan prasasti Aihole yang dikeluarkan oleh raja Puleskin II. Demikian pula penobatan raja Parikûit, cucu Arjuna (Pandava) berlangsung pada tanggal l8 Februari tahun 3.l02 Sebelum Masehi. Pendapat ini dikemukakan oleh seorang akhli astronomi yang bernama Aryabhatta. Pendapat lainnya dikemukakan oleh maharsi Garga, Varamihira dan Kalhana (Gambhìrànanda,1984:XIII). Karandikar mengatakan bahwa perang besar keluarga Bhàrata itu terjadi pada tahun 1.93l Sebelum Masehi, sedang menurut pendapat Prof.Sengupta bahawa perang itu berlangsung pada tahun 2.566 Sebelum Masehi dan C.V.Vaidya menyatakan pada tahun 3.102 Sebelum Masehi (Loc.Cit). Kurukûetra yang luasnya sekitar 100 kilometer persegi kini menjadi sebuah kota suci. Di sekitar Kurukûetra ini kita jumpai tempat diwedarkannya sabda suci Bhagavadgita oleh Úrì Kåûóa yang diterima oleh Arjuna, tempat ini bernama Jyotisara. Juga tempat Åûi Agung Bhìûma rebah diatas tempat tidur dari panah (Saratalpa) yang kini bernama Banagaògà Bhìûma, tempat gugurnya Àbhimaóyu yang dikeroyok oleh Kaurava, tempat dewi Draupadì memuja dewi Durgà untuk keberhasilan Pandava dalam perang besar Bhàratayuddha dan lain-lain.
 

Di samping peninggalan berupa prasasti dan bangunan purbakala, konon di Kurukûetra masih dijumpai bekas-bekas radioaktip yang menunjukkan betapa dahsyatnya perang besar saat itu. Data tradisi lainnya yang mendukung sumber sejarah tersebut di atas adalah keturunan para Rsi Veda seperti Bharadvaja, Atri dan juga dinasti Yadhu, yakni dinasti Sri Krisna, para Yadhava sampai kini masih jelas keturunanya.
 

Kini timbul pertanyaan, apakah mungkin ada manusia seperti Hanuman (seekor kera yang bisa terbang) ? Dalam tradisi Yoga, kekuatan batin seorang Yogi mampu melakukan hal itu.Di India, di negara bagian Madhyapradesh, masih terdapat suku asli (tribe) yang disebut Adhivasi, yang raut wajahnya mendekati raut wajah Hanuman, Sugriva dan tentara Vanara lainnya tentunya dalam versi India. Bahkan di kalangan suku asli tersebut,ada yang memasang ekor dari kain sebagai lambang kejantanan / keperkasaannya. Bandingkan pula dengan lelaki Bali pada saat berpakaian adat memasang kancut (ujung kain) ke depan, sedang lelaki India pada saat memakai Dhoti ujung kainnya terjurai ke belakang yang nampak sebagai ekor. Di Indonesiapun, pada masa yang silam para tokoh suka memakai nama binatang ( sebagai nama panggilan / julukannya ) misalnya raja Majapahit yang terkenal adalah Ayam (Hayam) Wuruk dan patihnya Gajahmada. Apakah kerajaan yang besar itu dipimpin oleh seekor ayam dan patihnya seekor gajah yang mabuk. Demikian pula nama-nama seperti Kebohijo, Mahisa Wong Ateleng dan di Bali kita mengenal pula nama Gajahvaktra, Keboparud, Keboiwa dan sebagainya.
 

Bila Itihàsa adalah sejarah, maka Puràóa adalah sejarah kuna, yang keduanya bila kita bandingkan Itihàsa sebagai sejarah kontemporer ( contemporary history ), karena penyusunnya mahàrûi Vyàsa masih hidup keetika karya agung Mahàbhàrata itu disusun, sedang Puràóa adalah sejarah kuna (ancient history). Kitab-kitab Puràóa isinya penuh dengan ajaran agama, moral, pendidikan budi pekerti dan lain-lain termasuk ceritra para dewa, para rsi dan raja-raja yang memerintah dunia. Di antara l8 Puràóa besar (Mahàpuràóa) yaitu Bhaviûya Puràóa (artinya sejarah yang akan datang) isinya sangat cocok dengan sejarah India kemudian. Pada kitab yang ditulis pada kurun waktu yang amat tua itu disebutkan bahwa India (Bhàratavarsa) akan dikuasai (dijajah) oleh seorang ratu yang bernama Victovati yang berasal dari Barat. Kitab ini juga menyebutklan jangka waktu kekuasaannya dan beberapa kata dalam bahasa Inggris seperti nama-nama hari dan lain-lain. Ratu Victovati, tidak lain adalah Victoria, ratu Inggris yang menguasai India pada masa penjajahan dulu.
 

Tentang Ràmàyaóa dan Mahàbhàrata sebagai sumber sejarah agama Hindu, G.S. Atlekar dalam bukunya Studies on Vàlmìki’s Ràmàyaóa menyatakan: The fact is that since the time of the Ràmàyaóa and the Mahàbhàrata also, the general public was of the firm opinion that the persons of both these epics where historic ones and the stories narrated therein were historic events. Ancient tradition was also same.
 

Lebih jauh dalam bahasa Sanskerta kata Itihàsa diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris history yang artinya sejarah, jurusan sejarah pada Universitas (Viúvavidyàlaya) atau Institut (Mahàvidyàlaya) disebut Itihàsa Vibhaga (Department of History). Ràjaniti Vibhaga (Department of Political Science), dan lain-lain. Jadi berdasarkan penjelasan di atas, Itihàsa dalam hubungannya dengan susastra Hindu,adalah kitab sejarah.Selanjutnya peristiwa sejarah itu diangkat menjadi karya sastra yang indah dan mempesona oleh Àdikavi Vàlmìki dalam Mahàkavya Ràmàyaóa, kemudian perang besar keluarga Bhàrata diangkat menjadi karya sastra Mahàbhàrata oleh maharsi Vyàsa (Kåûóadvaipàyana) bukan berarti kebenaran sejarah itu lenyap. Di India Ràmàyaóa dan Mahàbhàrata tidak digolongkan ke dalam karya sastra, sebab karya agung yang monumental itu cukup disebut Itihàsa saja. Keutamaan dari Itihàsa ini, disamping dapat dikaji dari keindahan sastranya, sudut estetikanya, juga dapat dikaji melalui ajaran moral agama, filsafat maupun Yoga.
 

Demikian pula dalam awal Mahàbhàrata, maharsi Vyàsa yang dikenal juga bernama Kåûóadvaipàyaóa menyatakan:
 

Puràóasaýhità puróya kathà dharmàrthasaýúrità.
 

Àdiparva,Mahàbhàrata I.20.
 

(Ceritra yang menarik ini merupakan perpaduan
antara peristiwa sejarah dan mitologi sebagai
landasan mewujudkan Dharma)
 

Demikian antara lain penjelasan penyusun langsung kedua kitab Itihàsa tersebut di atas yang merupakan pula landasan untuk mengkaji kedudukan Itihàsa dan Puràóa sebagai sumber ajaran agama Hindu.
 

Itihàsa sebagai karya sastra (Kavya)

Itihàsa atau sejarah, merupakan bentuk kolektif untuk Ràmàyana dan Mahàbhàrata, yang dalam publikasinya di belahan dunia barat disebut sebagai epos-epos yang agung. Berhubungan dengan hal tersebut dalam hal karakter dan kepentingannya, purana-purana yang merupakan kitab-kitab kuno, yang diterima sebagai Mahapurana adalah kitab-kitab suci mayor umat Hindu. Ituhasa-Purana disebut juga sebagai Veda yang kelima, kitab suci umat yang tidak disebutkan dalam keempat Veda tersebut. Dalam waktu yang lama, para sarjana barat telah meneliti pentingnya Itihàsa-Purana, yang sebagian besar mengandung mitologi dan sebagian lagi dikarenakan keberadaan teks-teks tersebut dan dalam edisi-edisinya terkadang membingungkan para pembaca , mengklaim sebagai karya kuno karena kenyataannya merupakan karya interpolasi dan secara keseluruhannya kurangnya kesatuan daripada tema dan struktur daripada epos tersebut atau karya-karya sejarah dalam pandangan-pandangan masyarakat barat. Sedangkan tradisi India selalu mengklain warisan kuno yang agung serta otoritas daripada tulisan-tulisan ini, serta mengajarkan pendekatan-pendekatan yang lebih kritis daripada sarjana-sarjana India modern yang telah melucuti beberapa legenda di sekitar buku-buku tersebut, ini telah dibentangkan terhadap keseluruhan pandangan tradisional dan menggunakannya dalam kepentingan-kepentingan yang lebih besar. Sebagai suatu bahan kajian awal, dalam studi Itihàsa-Purana, orang hendaknya menghormati kesusastraan India dan soal subjeknya tidak mendekatkannya dengan epos-epos lainnya dimanapun. Itihàsa-Purana merupakan keadaan nyata yang merupakan jantungnya Hinduisme, dengan keunggulan serta kelemahannya.. Walaupun inti dari Itihàsa-Purana barangkali kembali kepada abad VII sebelum masehi, ini lebih populer dan lebih hidup saat ini di India dibandingkan dengan beberapa hikayat di Eropa.
 

Bahasa India secara kuat dipengaruhi oleh kosa kata dan bahasa ibu daripada Itihàsa-Puràóa; dan dalam sejumlah penulisan kembali daripada teks-teks ini ke dalam bahasa ibu India seringkali merupakan karya-karya kesusastraan mayor yang pertama dalam bahasa-bahasa tersebut. Jika seseorang berkeinginan mengetahui agama Hindu dan terminologi theologi, orang harus mencermati apa-apa yang terdapat di dalam buku-buku ini. Karena buku-buku ini merupaka suatu medium daripada sebagian pengetahuan sekuler secara baik. Dan merupakan sumber daripada sosiologi, politik, pengobatan, astrologi, geografi dan sebagainya bagi masyarakat India. Dengan membaca Itihàsa-Puràóa saat ini orang akan dapat menemukan karakter masyarakat India . Digambarkan kepribadiannya, keinginan dan fantasinya, kesenangan-kesenangan, kesedihan-kesedihan mereka, emosinya serta ide-idenya lebih dekat terhadap masyarakat India saat ini daripada nasehat yang terdapat dalam buku-buku tersebut yang patut dihormati. Sejumlah orang-orang India menggunakan nama yang diambil dari nama-nama pahlawan yang ada di dalah kitab-kitab Itihàsa-Puràóa. Paling dikenal sejak dini mereka dikenalkan dengan kisah-kisah yang ada pada kitab tersebut yang didalamnya menyajikan pendidikan moral. Bacaan-bacaan dalam bahasa ibu India di sekolah-sekolah menggunakan hikayat yang diambil dari kitab-kitab tersebut. Sejumlah film dan drama menggunakan subjek ini, dengan hanya sedikit adanya suatu modifikasi, dari kitab-kitab kuno ini. Kadangkala masyarakat sederhana di pedesaan secara antosias membicarakan tentang Rama dan Sita, tentang Krsna dan Arjuna, Hanumàn dan Ràvana, Bhàrata dan Lakûmana yang secara kontemporer telah mencerminkan memasyarakatnya tradisi Itihàsa-Puràóa. Penyiaran, media cetak, film, dan musik-musik menggunakan ini sebagai “sejarah yang benar dari pada India dan sejarah bukan merupakan suatu evant tetapi merupakan suatu desakan dan aspirasi-aspirasi, maksud dan keinginan daripada negara. Bagaimanapun kritikal daripada para sarjana terhadap susastra ini, boleh jadi telah menemukan tentang teks-teks serta sejarahnya, dan Hinduisme tanpa ini akan tidak menjadi seagung sekarang. Seseorang yang tertarik dalam agama yang nyata daripada masyarakat India saat ini akan menjumpai Itihàsa-Puràóa sebagai sumber terbaik terhadap segala aspek daripada kontemporari kehidupan beragama daripada komunitas masyarakat (Klostermaier, 1989: 74)
 

Mahàbhàrata menyajikan karya keseluruhan yang lebih besar daripada karya yang homogen; kitab ini mengandung suatu perbendaharaan yang sungguh-sungguh terhadap adat kebiasaan orang-orang India, baik itu sekuler maupun keagamaan. Tiada karya tersendiri yang memberikan pandangan kedalam rahasia yang paling dalam daripada roh manusia. Ini merupakan ( nyanyian kemenangan “ terhadap tingkah laku para pahlawan di dalampeperangan yang ditemukan terhadap balas dendam karena penghinaan perempuandan utamanya mengandung kebenaran terhadap dinasti yang mengadakan perluasan wilayah kekuasaan daripada Bhàrata dan merajut bersama-sama terhadap utara, timur, barat dan selatan India ke dalam satu kerajaan. Ini merupakan Purana-Samhita yang mengandung perluasan ceritera tentang orang bijaksana dan orang yang melihat sebelumnya, kecantikan daripada wanita dan kewajiban-kewajiban, tentang prajurit, dan puisi raja-raja. Dan ini merupakan puisi yang sangat indah digambarkan dalam bahasa yang dapat ditiru, tentang keberadaan oara pertapa di hutan, penari di pantai dngan ombaknya serta buihnya, keberadaan penduduk asli, tentang kewajiban-kewajiban saudara-saudara perempuan yang semestinya, tentang ratapan daripada wanita-wanita tua yang ditinggalkan mati oleh para pahlawan. Ini juga merupakan otoritatif daripada buku-buku hukum, moralitas, sosial, politik, filosofi, yang membentang dalam pencapaian dharma, artha, dan kama yang disebut dengan tri varga, dan juga menunjukkan cara pembebasan serta menerangkan tentang filsafat agama tertinggi di India.
 

Sejak abad keenam sebelum masehi, Mahàbhàrata disebut sebagai satasahasri samhita, yang terdiri dari 100.000 stanza. Di barat, ini menjadi karya yang sangat besar, yang empat kali isi bibel atau delapan kali lebih besar daripada teks Iliad dan Odyssey, epos besar Yunani. Karya ini memiliki sejarah.sejarah. Generasi dari pada sarjana telah mencoba untuk ,menemukan Ur-Mahàbhàrata dengan kebesaran epos susastra tersebut berdasarkan cara menemukannya sejumlah lapisan naratif dan muncul sebagain saga yang di berikan sebutan dalam keseluruhan karya yang mengulustrasikan tentang hukum. Mahabrata, dalam edisi kupasannya salah satu daripda karya sustra terbesar telah di terbitkan beberapa kali dalam beberapa bahasa, meskipun tidak mencoba untuk merekontruksi mahabrata yang asli akan tetapi tujuanya mengkontitusikannya sebuah teks yangn dapat di terima secara umun dalam sejumlah resensi. Dapat di duga penambahan terjadi setelah kurang lebih tahuan 400 masehi.
 

Secara keseluruhan pandangan tradisional terhadap kupasan modern kitab ini yang menyangkut keaslian perkembangan dari pada mahabrata. Sehingga sejumlah sarjana saat ini menerima pandangan bahwa Mahàbhàrata telah mengalami dua resensi utama : mulai dengan jaya yaitu suatu puisi tentang kemenangan pandawa terhadapkkurawa kurang lebih 7000 sloka. Ini di duga sebagain karaya daripada Vyàsa, yang juga dikenal sebagai Krsna Dvipayana, putra dari pada Paraasara dan setiawati. Ini telah di perbesar tiga kali dari yang telah oleh Vaisampayana dalam bukunya yang berjudul Bhàrata dimana isinya tentang korban ular dari janamejaya. Suta, yang telagh mendengara di san menghubungkannya dalam Mahàbhàrata 100.000 persi yang di gabungkan oleh para pertapa di dalam hutan Naimisa selama pelaksanaan korban yang di lakukan oleh Úaunaka (Ibid, 76)
 

Sebagai karya sastra yang indah tentunya kedua karya yang agung di atas memiliki berbagai persyaratan tentang sebuah karya sastra, di antaranya terdapat “utsava” atau “sabha”, persidangan, “adbhùtarasa’, ketakjuban, “srenggararasa”, melankolis, “yuddha”, peperangan, “upadeúa”, nasehat-nasehat dan lain-lain. Keindahan karya sastra Jawa Kuno disebut sebagai candi pusataka oleh Zoetmulder, dengan tidak mengurangi rasa hormat kepada para “rakavi Jawa Kuno”, tentunya keindahan yang terkandung dalam Ràmàyana dan Mahàbhàrata dalam teks aslinya (bahasa Sanskerta) tidak dapat dibandingkan, yang membuat kekdua karya ini digubah kembali dan digubah lagi dewasa ini dalam bentuk film, drama dan lain-lain.
 
Simpulan

Berdasarkan uraian tersebut di atas, dapat disimpulkan sebagai berikut.
 

1) Ràmàyaóa dan Mahàbhàrata merupakan Itihàsa yang juga mempunyai kedudukan sebagai Veda dan sangat besar peranannya dalam agama Hindu, khususnya dalam pengembangan ajaran moralitas untuk dipahami dan diamalkan.
 

2) Ràmàyaóa dan Mahàbhàrata penuh dengan ajaran moralitas yang merupakan pegangan umat manusia untuk mencapai keselamatan, kemakmuran, kebahagiaan dalam hidup dan ajaran tersebut relevan sepanjang sejarah umat manusia.
 

3) Ràmàyaóa dan Mahàbhàrata mengandung data sejarah yang dapat dikaji secara autentik untuk menentukan perkembangan kebudayaan masyarakat pada masa itu.
 

4) Ràmàyaóa dan Mahàbhàrata sebagai karya sastra yang agung dan populer sangat diminati oleh umat manusia di berbagai belahan bumi sepanjang masa dan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa disiarkan melalui berbagai media.

Last Updated ( Friday, 07 August 2009 )
 

© 2007 E - Banjar Team e-banjar portal web site