BANJAR ONLINE
HOME
SEARCH
BANJAR SAMATRA
FAQ
MAWIRASE
Buku Tamu
PABLIGBAGAN
Hit Counter
024057081
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari Ini1589
mod_vvisit_counterKemarin1854
mod_vvisit_counterMinggu Ini10328
mod_vvisit_counterBulan Ini22047
mod_vvisit_counterSeluruhnya453219
DHARMAWACANA
PEDANDA GUNUNG
PRABHU DARMAYASA
PEDANDA SEBALI
I MADE TITIB
MADRA SUTA
JERO DUKUH SAMIAGA
Login Form
Username

Password

Remember me
Lost Password??
No account yet? Register
WEB LINK
WEB HINDU
Sanggar Telematika
DS TEGALINGGAH AMLAPURA
SANGGAR RIMO
Sanggar Telematika Desa Batuan
SANGGAR DESA TIGA BANGLI
SANGGAR UBUD KELOD
BLOG DESA BUGBUG
BANJAR CIANGSANA BOGOR
BLOG DESA SEDANG BADUNG
BLOG BANJAR NORWAY
BLOG BANJAR BELGIA
BANJAR SUKA DUKA BELANDA

PENGERTIAN DEWA DEWA TRI MURTI PDF Print E-mail
User Rating: / 0
PoorBest 

PENGERTIAN DEWA DEWA TRI MURTI

Prof. Dr. I Made Titib, Ph. D

Indraý mitraý varunam agniý ahur

atho divyaá sa suparóo garutmàn,

ekaý sadviprà bahudhà vadanti

agniý yamaý matarisvànam ahuh.

Ågveda I.64.46.

(Mereka menyebutnya dengan Indra, Mitra, Varunadan Agni, Ia yang bersayap keemasan Garuda, Ia adalah Esa, Para maharesi (Vipra/orang bijaksana) memberi banyak nama, mereka menyebutnya Indra, Yama, Matarisvàn)
 

Pendahuluan
 

Bila kita mengkaji kitab suci Veda maupun praktek keagamaan di India dan Indonesia (Bali) maka Tuhan Yang Maha Esa disebut dengan berbagai nama. Berbagai wujud digambarkan untuk Yang Maha Esa itu, walaupun sesungguhnya Tuhan Yang Maha Esa tidak berwujud dan tidak terjangkau oleh akal dan pikiran manusia yang dalam bahasa Bahasa Sanskerta disebut Acintyarùpa yang artinya: tidak berwujud dalam alam pikiran manusia (Monier, 1993: 9 ), dan dalam bahasa Jawa Kuno dinyatakan: “TanKagrahita dening manah mwang indriya” (tidak terjangkau oleh akal dan indriya manusia).
 

Bila Tuhan Yang Maha Esa tidak berwujud (Impersonal God), lantas mengapa dalam sistem pemujaan kita membuat bangunan suci, arca, pratima, parlingga, mempersembahkan bhusana, sesajen dan lain-lain. Bukankah semua bentuk perwujudan maupun persembahan itu ditujukan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang berwujud dalam alam pikiran manusia?

Sebelum kita lebih jauh membahas tentang Tuhan Yang Maha Esa, marilah kita tinjau difinisi atau pengertian tentang Tuhan Yang Maha Esa yang dikemukakan oleh Maharsi Vyàsa yang dikenal juga dengan nama Badaràyaóa dalam bukunya:Brahmasùtra atau Vedantasàra, sebagai berikut. Janmàdyasya yataá (I.1.2), yang oleh Svami Sivananda (1977) diterjemahkan sebagai berikut. Brahman adalah asal muasal dari alam semesta dan segala isinya (janmàdi = asal, awal, penjelmaan dan sebagainya, asya= dunia/alam semesta ini, yataá = dari padanya). Jadi menurut sùtra ini, Tuhan Yang dalam bahasa Sanskerta disebut Brahman ini adalah merupakan asal mula segalanya. Penjelasan ini sesuai dengan bunyi mantram Puruûa Sùkta Ågveda :

Puruûa evedaý sarvaý yadbhùtaý yacca bhavyam,

utàmåtatvasesà no yadannenati rohati.

Ågveda X.90.2.

(Tuhan sebagai wujud kesadaran agung merupakan asal dari segala yang telah dan yang akan ada. Ia adalah raja di alam yang abadi dan juga di bumi ini yang hidup dan berkembang dengan makanan)
 

Demikian pula, Tuhan Yang Maha Esa sebagai sumber segalanya dan sumber kebahagiaan, dinyatakan pula di dalam mantra Veda berikut :

Yo bhùtaý ca bhavyam ca sarvaý yaú cadhitisthati,

svar yasyaca kevalam tasmai jyeûþhàya brahmaóe namaá.

Atharvaveda X.8.1.

(Tuhan Yang Maha Esa hadir dimana-mana, asal dari segalanya yang telah ada dan yang akan ada. Ia penuh dengan rakhmat. Kami memuja Engkau,Tuhan Yang Maha Tinggi).
 

Selanjutnya dalam Naràyaóa Upaniûad 2, yang kemudian dijadikan mantram ke-2 Tri Sandhyà, juga menjelaskan tentang Tuhan Yang Maha Esa sebagai asal segalanya, maha suci tidak ternoda, sebagai berikut :

Naràyaóa evedaý sarvaý yadbhùtaý yacca bhavyam,

niskalaòko niranjano nirvikalpo niràkhyàtaá suddho devo eko

Naràyaóo na dvityo’sti kaúcit.

Naràyaóa Upaniûad 2.

(Ya Tuhan Yang Maha Esa, dari Engkaulah semua ini berasal dan kembali yang telah ada dan yang akan adadi alam raya ini. Hyang Widhi Maha Gaib, mengatasi segala kegelapan, tak termusnahkan, maha cemerlang, maha suci (tidak ternoda), tidak terucapkan, tiada dua-nya).
 

Definisi atau pengertian tentang Tuhan Yang Maha Esa tersebut di atas tentu sangat terbatas, oleh karena itu kitab-kitab Upaniûad menyatakan difinisi atau pengertian apapun yang ditujukan untuk memberikan batasan kepada Tuhan Yang Tidak Terbatas itu tidaklah menjangkau kebesaran-Nya,oleh karena itu kitab-kitab Upaniûad menyatakan tidak ada difinisi yang tepat untuk-Nya, Neti-Neti (Na + iti, na+iti), bukan ini, bukan ini. Bila tidak ada difinisi yang tepat untuk-Nya, bagaimanakah kita dapat memuja-Nya? Untuk memahami Tuhan Yang Maha Esa, maka tidak ada jalan lain kecuali mendalami ajaran agama, memohon penjelasan para guru yang ahli di bidangnya yang mampu merealisasikan ajaran ketuhanan dalam kehidupan pribadinya. Tentang kitab suci atau sastra agama sebagai sumber atau ajaran untuk memahami Tuhan Yang Maha Esa, kitab Brahma Sùtra, secara tegas menyatakan: Úàstrayonitvat (I.1.2), yang artinya: kitab suci/ sastra agama adalah sumber untruk memahami-Nya.
 

Sang Hyang Widhi, Brahmà, Viûóu, dan Úiva
 

Kembali pada permasalahan yang dikemukakan pada awal tulisan ini, apakah Sang Hyang Widhi sama dengan Úiva atau Brahman? Untuk menjawab pertanyaan ini, maka marilah kita kaji berdasarkan tinjauan etimologis maupun leksikal sebagai berikut: Kata Widhi (Sanskerta Vidhi) berasal dari urat kata Vidh yang artinya yang mengatur, hukum, ajaran, perintah, petunjuk, ajaran, perbuatan, persembahan, pekerjaan, menjadikan atau yang mentakdirkan, Vidhi juga berarti hukum atau pengendali dan lain-lain (Ibid : 968).
 

Kata Widhi (Sanskerta Vidhi) berasal dari urat kata Vidh yang artinya : sebuah aturan, peraturan atau kekuasaan, rumus, perintah, keputusan, ordonansi (peraturan setempat), undang-undang, ajaran, hukum, perintah, petunjuk (teristimewa petunjuk tentang persembahan sesuai kitab-kitab Bràhmaóa, kitab suci Veda, yang menurut Sàyaóa terdiri dari 2 bagian, yaitu (1). Vidhi, yaitu petunjuk atau aturan seperti “yajate”, ia yang mempersembahkan upacara Yajña, “kuryàt”, ia yang menyajikan, dan (2) Artha-vàda, penjelasan tentang asal/makna upacara dan penggunaan mantra, yang dipadukan dengan legenda-legenda dan ilustrasi-ilustrasi) seperti disebutkan dalam Gåhyaúrautasùtra, Manusmåti, Mahàbhàrata dan lain-lain, aturan tata bahasa atau perintah, Pàóini 1.I.57; 72, petunjuk pelaksanaan upacara atau ritual, dan lain-lain. Di dalam Mahàbhàrata dan kitab-kitab Kàvya lainnya. Vidhi disebut sebagai Sang Pencipta (creator), juga Pañcaràtra. Vidhi adalah salah satu nama dari Brahma sebagai pencipta atau penguasa hukum. Vidhi juga berarti hukum atau pengendali dan lain-lain (Ibid: 968).
 

Di dalam kitab-kitab Puràna, Vidhi adalah nama lain dari Brahma sebagai telah disebutkan di atas, yakni sebagai Sang Pencipta. Di dalam kitab Amarakoûa dijelaskan satu úloka tentang nama-nama Brahma di antaranya adalah Vidhi, sebagai berikut :

Dhàtàbjayonir druhino Virañciá kamalàsanaá,

Sraûþà prajàpatir vedhà Vidhàtà viúvasåþvidhiá

(Brahma adalah Dhàtà (yang memegang atau menampilkan segala sesuatu), Abjayoni (yang lahir dari bunga teratai, Druhióa (yang membunuh raksas),Virañci (yang menciptakan), Kamalàsana (yang duduk di atas bunga teratai), Srûþà (yang menciptakan), Prajàpati (raja dari semua mahluk/masyarakat), Vedhà (ia yang menciptakan), Vidhàtà (yang menjadikan segala sesuatu), Viúvasåt (ia yang menciptakan dunia) dan Vidhi berarti yang menciptakan atau yang menentukan, juga berarti yang mengadilinya (Vettam, 1975: 155)
 

Di Bali kita temukan lontar-lontar susastra Jawa Kuno di antaranya Àdiparwa (109), Udyogaparwa (5;103), Uttarakaóîa (130), Sàrasamuccaya (505.1), Wåhaspatitattwa (22.8), Ràmàyana (7.22; 17.45), Ghatotkacàúraya(34.5), Sumanasàntaka (7.3), Sutasoma 11.7; 12.2), Arjunawijaya (2.1; 68.4), Tantri Kàmaóðaka (62.19), Kidung Harsa Wijaya (1.6; 1.11; 2.121), Kidung Suóîa (3.2), Raògalawe (8.33), Malat (7.109), Tantri Kadiri (2.124) dan Soràndaka (1.14) yang secara jelas menyatakan kata Widhi (Sanskerta Vidhi) berarti: “aturan atau perintah tertinggi, tertib alam semesta, nasib (takdir), penguasa tertinggi (Sang Hyang Widhi), pencipta (alam semesta)” dan sejenisnya” (Zeotmulder, 1995).
 

Di Bali kita temukan sebuah lontar bernama Vidhi Papiñcatan yang berisi keputusan-keputusan hukum/ pengadilan semacam yurisprudensi. Dengan demikian Sang Hyang Widhi adalah Tuhan sebagai Pencipta alam semesta. Tuhan sebagai Widhi disebut bersthana di Luhuring Àkàúa, yang artinya bersthana di atas angkasa, nun jauh di sana. Dalam pengertian ini, tentunya Tuhan digambarkan tidak berwujud (Impersonal God). Kapan Sang Hyang Widhi dihaturi persembahan, maka saat itu juga Beliau telah terwujud dalam alam pikiran. Wujud-wujud utama-Nya itu disebut Tri Mùrti (Brahma, Viûóu dan Úiva).
 

Kata Brahman (adalah bentuk neutrum dari Brahma) yang berarti: yang tumbuh, berkembang, berevolusi, yang bertambah besar, yang meluap dari diri-Nya, dan sejenisnya (Ibid: 737). Ciptaan-Nya muncul dari diri-Nya, seperti halnya Veda yang muncul dari nafas-Nya. Kemahakuasaan Hyang Brahma sebagai pencipta jagat raya didukung oleh úakti-Nya yang disebut Sarasvatì, dewi pengetahuan dan kebijaksanaan yang memberikan inspirasi untuk kebajikan umat manusia. Bila disebut sebagai Brahma, maka Ia adalah manifestasi utama Tuhan Yang Maha Esa sebagai pencipta, dengan demikian Brahma saat ini adalah Personal God. Brahma digambarkan berwajah empat (Caturmukha) dan lain-lain. Dengan demikian Hyang Widhi adalah sama dengan Brahman, Tuhan Yang Tidak Berwujud dalam alam pikiran manusia (Impersonal God).
 

Manifestasi utama-Nya lainnya adalah Viûóu. Viûóu manifestasi Tuhan Yang Mahaesa memelihara jagat raya dan segala isinya. Ia yang menghidupkan segalanya. Kata Viûóu berarti: pekerja,yang meresapi segalanya dan sejenisnya (Ibid:999). Kemahakuasaan Hyang Viûóu dalam memelihara alam semesta beserta segala isinya didukung oleh úaktinya yang bernama Lakûmì).
 

Kata Úiva berarti: yang memberikan keberuntungan (kerahayuan), yang baik hati, ramah, suka memaafkan, menyenangkan, memberi banyak harapan, membahagiakan dan sejenisnya (Ibid:1074). Úiva di dalam menggerakkan hukum kemahakuasaan-Nya didukung oleh úaktinya Durgà atau Parvatì. Hyang Úiva adalah Tuhan Yang Mahaesa sebagai pelebur kembali (aspek pralaya atau pralina dari alam semesta dan segala isinya). Úiva yang sangat ditakuti disebut Rudra (yang suaranya menggelegar dan menakutkan). Úiva yang belum kena pengaruh Maya (berbagai sifat seperti Guna, Úakti dan Svabhava) disebut Parama Úiva, dalam keadaan ini, disebut juga Acintyarùpa atau Impersonal God.
 

Berdasarkan uraian tersebut di atas, jelaslah bagi kita bahwa Hyang Widhi Waúa adalah Tuhan Yang Maha Esa, Ia disebut juga Brahman dan berbagai nama lainnya. Bila Tuhan Yang Maha Esa dipuja dengan aneka persembahan, maka Ia dipuja sebagai Tuhan Yang Personal, bermanifestasi.
 

Dewa - Dewi & Bhaþþàra - Bhaþþàri
 

Di dalam Veda, Tuhan Yang Maha Esa dan para dewa disebut deva atau devatà. Kata ini berarti: cahaya, berkilauan, sinar gemerlapan yang semuanya itu ditujukan kepada manifestasi-Nya, juga ditujukan kepada matahari atau langit, termasuk api, petir atau fajar( Muller,1969:17).Deva juga berarti mahluk sorga atau yang sangat mulia (Apte, juga Monier,1990 : 4925).

Tentang deva-deva ini, S. Radhakrishnan menyatakan dalam bukunya Indian Philosophy, Vol.I (1990: 58) menyatakan: Hal ini sangat penting untuk didiskusikan. Kata Veda sangat dimuliakan sesuai dengan alamnya dan digunakan untuk menunjukkan berbagai hal yang berbeda-beda. Lebih lanjut ia mengutip kitab Nirukta, sebagai berikut :

devo dànàd và dìpanàd và dyotanàd

và dyusthàno bhavati itìva.

Nirukta VII.15.

(Deva adalah yang memberikan sesuatu kepada manusia (Kiranya dapat dibandingkan dengan lady dalam bahasa Inggris yang asalnya berarti tukang remas bahan roti. Demikian pula kata lord yang pada mulanya berarti penjaga roti). Tuhan Yang Maha Esa disebut deva oleh karena Ia memberikan segala isi alam ini. Matahari, langit dan bulan adalah dewa-dewa oleh karena mereka memberikan cahaya kepada semua ciptaan-Nya.Seorang terpelajar (Àcàrya/Åûi) adalah juga deva karena ia memberikan ilmu kepada murid-muridnya (vidvaýso hi devaá).
 

Dapat pula ditambahkan penjelasan tentang dewa tersebut di atas, ada juga yang disebut dewa, yakni 4 dewa seperti disebutkan dalam kitab Taittirìya Upaniûad berikut :

Matådevo bhava pitådevobhava

àcàryadevo bhava atithidevo bhava.

Taittirìya Up.I.11.

(Seorang ibu adalah dewa, seorang bapak adalah dewa, seorang guru adalah juga dewa dan para tamupun adalah dewa)
 

Menurut terjemahan mantram Upaniûad di atas, maka keempat dewa itu adalah para dewa yang mempunyai badan kasar (Dayananda, 1981: 93). Selanjutnya apakah ada beda pengertian atau makna antara deva dengan devatà ? Sesungguhnya bila kita kaji berdasarkan gramatika bahasa Sanskerta, kedua kata itu mempunyai pengertian yang sama. Kata devatà dibentuk dengan penambahan kata tambahan tal pada kata dasar deva (deva + tal + r À.P = deva + ta + a) sebagai penekanan menurut Aûþadhyàyi karya Pàóini, tanpa mengubah arti atau makna dari kedua kata itu sebagai dinyatakan dalam ungkapan berikut: deva + tal = devatà (Aûþadhyàyi V.4.27).
 

Menurut Svami Dayananda Sarasvati, matahari dan yang lainnya tidak dapat menyinari Tuhan Yang Maha Esa. Matahari dan benda-benda yang bersinar lainnya memperoleh sinar dari Tuhan Yang Maha Esa, yakni Ia yang bersinar dengan sendirinya. Sinar-sinar pada benda-benda langit itu sangat tergantung kepada-Nya. Dengan demikian Tuhan Yang Maha Esa sesungguhnya adalah devatà yang tertinggi yang sepatutnya menerima bhakti dan pemujaan kita (Dayananda Sarasvati, 1981: 84).
 

Pernyataan Svami Dayananda Sarasvati itu didukung oleh pernyataan dari mantram Upaniûad berikut :

Na tatra sùryo bhàti, na candra tarakam,

nemà vidyuto bhànti, kuto’yam agniá,

tam eva bhàntam anubhàti sarvaý tasty

bhàsà sarvam idaý vibhàti.

Katha Up. II.2.15.

(Matahari tidak bersinar di sana, demikian pula bulan dan bintang - bintang, jadi dimanakah datangnya api ini ? Semuanya bersinar sesudah sinar-Nya itu. Seluruh dunia disinari oleh sinar-Nya itu)
 

Lebih jauh kita temukan sebuah penjelasan di dalam kitab Nirukta tentang deva dalam syair berikut :

Mahà bhàgyàd devatàyà ekam evàtmà bahudha

stuyate, ekasyàtmàno’tye devàá pratyaògàni bhavanti,

karmajanmanà, àtmàivaisaý rathebhavatyàtmà svà

àtmayudhamatmesava atma sarva devasya-devasya.

Nirukta VII.4.

(Oleh karena demikian tinggi makna dan ciri khas dari devatà (dalam hal ini Tuhan Yang Maha Esa). Yang merupakan jiwa alam semesta yang dipuja dengan ber- bagai pujian. Lainnya, para deva (disebutkan di dalam kitab suci Veda), hanyalah bagian dan atau manifestasi-Nya (dari Jiwa Yang Agung itu). Para dewa tampil dengan aneka wujudnya oleh karena berbagai aktivitas-Nya (yang berlipat ganda). Kereta (ratha) adalah deva (Jiwa dari alam semesta), kuda-kuda kereta adalah deva adalah cahaya-Nya. Panah-panah - Nya adalah deva, cahaya-Nya adalah jiwa-jiwa yang sama. Jiva itu adalah deva).
 

Menurut Svami Dayananda Sarasvati, kata deva mengandung 10 arti dari urat kata divu, yaitu: (1). bermain, (2). penaklukan, (3). aktivitas pada umumnya. (4). kemuliaan/keagungan, (5). penghormatan, (6). menyenangkan, (7). kerinduan, (8). tidur, (9). keindahan (kànti) dan (10). kemajuan. Selanjutnya Svami Dayananda Sarasvati mengatakan: arti atau makna kata deva itu melingkup dua hal yang sama. Perbedaan antara deva (Tuhan Yang Maha Esa) dengan deva (para dewa) adalah: seluruh deva atau devatà menerima sinar dari Tuhan Yang Maha Esa (merupakan sinar-Nya) sedang Tuhan Yang Maha Esa memancarkan sendiri sinar-Nya itu (Ibid : 83).
 

Petikan dari mantram Yajurveda berikut mendukung pandangan bahwa Tuhan Yang Maha Esa memancarkan sendiri sinar-Nya :

yo’asav àditye purusaá

so’asav aham. Om Kham Brahma.

Yajurveda XL.17.

(Spirit yang terdapat di matahari, itu adalah Aku. Om (nama-Ku) memenuhi seluruh alam semesta)
 

Svami Dayananda Sarasvati membuka pengertian yang lebih luas tentang deva atau devatà yang beraneka ragam (pluralistis), yang secara salah telah diinterpretasikan oleh sarjana-sarjana Eropa, yang sesungguhnya memancar dari Tuhan Yang Maha Esa. Beraneka deva atau devatà itu adalah untuk memudahkan membayangkan-Nya seperti yang secara gamblang dijelaskan dalam mantram-mantram Veda.
 

Dalam teologi Hindu kita jumpai demikian banyak jumlah atau nama dewa-dewa itu! Berapakah sesungguhnya jumlah dewa-dewa itu? Kitab suci Ågveda seperti pula halnya Atharvaveda menyebutkan jumlah dewa-dewa itu sebanyak 33 dewa (Macdonell, 1991: 19). Berikut adalah kutipan mantram dari Ågveda tentang mantram dimaksud :

à nàsatyà tribhirekàdasai ha devebhir yàthaý

madhupeyam aúvinà, pràyustàristaý nì ripàý

si måkûataý sedhataý dveso bhavataý sacàbhuvà.

Ågveda I.34.11.

(Semogalah Engkau tiga kali sebelas (33) tidak pernah jatuh dari kesucian, sumber kebenaran, yang memimpin kami menuju jalan untuk memperoleh kebajikan. Semoga Tuhan Yang Maha Esa merakhmati persembahan kami, memper- panjang hidup kami, menghapuskan kekurangan kami, me- lenyapkan sifat-sifat jahat kami dan semoga semuanya itu tidak membelenggu kami)

Úruûþìvàno hi dàúuûe deva agne vicetatasaá,

tàn rohidaúva girvanas trayastriýúatamà à vaha.

Ågveda I. 52. 2.

(Ya Tuhan Yang Mahaesa, Engkau adalah guru agung, penuh kebijaksanaan, menganugrahkan karunia kepada mereka yang mempersembahkan karya-karyanya. Ya Tuhan Yang Penuh Cahaya Gemerlapan, semogalah para pencahari pengetahuan rohani dapat mengetahui rahasia dari 33 deva (yang merupakan tenaga kosmos).
 

Di dalam kitab suci Yajurveda, kita jumpai sebuah mantram yang juga menjelaskan hal ini :

Trayastriýúatàstuvata bhùtànyaúàmyan

prajàpatiá parameûþyadhipatiràsit

Yajurveda XIV.31.

(Pemujaan oleh 33 dewa dan kedamaian ditegakkan Tuhan Yang Maha Esa, Yang adalah maharaja dari semua mahluk, Ia adalah penguasa dan pengendalinya)
 

Selanjutnya, di dalam kitab suci Atharvaveda kita jumpai penjelasan tentang 33 dewa, sebagai berikut :

yasya trayas triýúad devàsange gatra bibhejire,

tàn vai trayastriýúad devàneke Bràhma vido viduá.

Atharvaveda X.7.27.

(Tiga puluh tiga deva menyelesaikan tugasnya masing-masing, di dalam ciptaan Tuhan Yang Maha Esa.Hanya beberapa orang yang terpelajar di dalam Veda memahami 33 devatà)
 

Bila kita membaca mantram-mantram lainnya dari kitab suci Ågveda, ternyata jumlah dewa-dewa di dalam Veda tidaklah hanya 33, melainkan sebanyak 3339 yang merupakan kelipatan 101 3/11 (seratus satu 3 persebelas), sebagai dijelaskan dalam mantram berikut :

trìni úatà trì sahasràóyagniý triýúañcca

devà nava càsaparyan, aukûan ghåtairaståóan

barhirasmà àdiddhotàraý nyasàdyanta.

Ågveda III. 9.9.

(Adalah tiga ribu tiga ratus tiga puluh sembilan devatà memuja Agni. Yang telah menyebarkan rumput suci dengan minyak yang dicipratkan dan mengangkat mereka sebagai Pandita dan pelaksana Yajña)
 

Selanjutnya di dalam kitab suci Veda kita tidak menemukan informasi yang jelas tentang nama 33 atau 3339 devatà sebagai tersebut dalam mantram-mantram Veda di atas. Penjelasan tentang nama 33 dewa tersebut dapat dijumpai dalam kitab Úatapatha Bràhmaóa, sebagai berikut :

Sa hovàca mahimàn evaiûàmete trayastriýúatteva

devà iti, katame te trayastriýúàdityàûþau vasavaá,

ekadaúarudrà,dvàdaúàdityàsta ekatriýúad indraúca

iva prajàpatiúca, trayastriýúaviti.

Úatapatha Bràhmaóa XIV.5.

(Sesungguhnya Ia mengatakan: Adalah kekuatan agung yang dahsyat sebanyak 33 devatà. Siapakah devatà itu ? Mereka adalah 8 Vasu (Aûþavasu), 11 Rudra (Ekadaúarudra),12 Aditya (Dvàdaúàditya). Jumlah seluruhnya 31, (kemudian ditambah) Indra dan Prajàpati, seluruhnya menjadi 33 devatà)
 

Diantara dewa-dewa itu, Ågveda menggambarkan dewa Sùrya sebagai dewa tertinggi, dewa dari seluruh dewa. Sùrya adalah sumber dan pendukung kehidupan, yang memberikan sinar yang terang dan kegembiraan, melenyapkan kegelapan malam dari kebodohan, menurunkan pengetahuan kapada setiap mahluk dan memberikan cahaya kepada planet-planet di alam raya (Lokesh Chandra, 1977:35). Pendapat ini didukung oleh bukti mantram berikut :

udvayaý tamasaspari jyotis paúyanta uttaram,

devaý devatrà sùryamaganma jyotiruttamam.

Ågveda I.50.10.

(Lihatlah menjulang tinggi di angkasa, cahaya yang terang benderang mengatasi kegelapan telah datang, Ia adalah Sùrya, dewa dari seluruh devatà,cahayanya yang terang itu betapa indahnya)
 

Sùrya bukanlah bola matahari, melainkan devatà tertinggi, dewa dari seluruh dewa. Sesungguhnya semua dewa-dewa yang tersebut dalam Veda adalah nama atau bentuk lain dari Sùrya, devatà tertinggi. Di dalam Veda, deva pada dasarnya adalah Sùrya yang memancarkan cahaya-Nya sendiri, dan devì adalah aspek feminim (wanita) dari devatà. Devì pada dasarnya mengandung makna fajar di pagi hari. Sùrya di dalam Veda adalah satu kesatuan integral dari pada devatà, realitas kesatuan mutlak dan ciptaan-Nya, yang sesungguhnya Satu dalam Segalanya dan Segalanya dalam Yang Satu (David Frawely, 1982:279). Pandangan David Frawely ini di dalam filsafat ketuhanan disebut Monisme.
 

Dapat pula ditambahkan bahwa merealisasikan Spirit atau kekuatan di dalam matahari, atau Sùrya sebagai àtmà di dalam diri merupakan fokus dari ajaran Upaniûad, teristimewa pandangan tentang kesatuan dengan Brahman, seperti dijelaskan dalam Yajur Veda XL.17, yang menyatakan kekuatan yang menjadikan matahari bersinar, Itu adalah Aku. Kalimat ini marupakan salah satu Mahàvàkya (sasanti uttama) dalam kitab-kitab Upaniûad dan menjadi landasan utama dari ajaran Vedànta: Tat tvam asi (Ia adalah engkau), Ahaý Brahmàsmi (Aku adalah Brahman), Ayam Àtmà Brahma (Atman ini adalah Brahman), Prajñànaý Brahma (Kesadaran adalah Brahman), Sarvaýkhalvidaý Brahma (Segalanya adalah Brahman). Mahàvàkya-mahàvàkya ini adalah sejalan dengan makna Gàyatrì atau Savitrì mantram dalam Ågveda, mantram yang ditujukan untuk memuja Sùrya, kekuatan yang menjadikan matahari bersinar, Savitar (Loc.Cit.). Di atas telah disebutkan bahwa Sùrya adalah devatà tertinggi di dalam Veda. Kedudukan dewa Sùrya hingga kini menempati posisi sebagai saksi agung segala prilaku umat manusia dan selalu dipuja pertama kali sebelum pemujaan kepada para dewa yang lain.
 

Di samping Sùrya dengan berbagai nama yang merupakan berbagai aspek-Nya, dewa-dewa lainnya yang dominan di puja di dalam Veda adalah Agni (dewa api), Indra(dewa hujan,dewa perang dan raja kahyangan) dan Vàyu (dewa angin), juga dewi-dewi yang kerap kali dipuja atau disebutkan dalam mantram-mantram Veda adalah Sarasvatì, Savitrì, Aditì, Sùryaputrì dan lain-lain. Dewa-dewa dan dewi-dewi itu pada umumnya digambarkan secara anthrophomorphic (berwujud seperti manusia) dengan aneka keunggulan dan kelebihannya (manusia super) lengkap dengan kendaraan (kereta) dan binatang-binatang yang menarik keretanya. Arsitek kahyangan dan sekaligus dewa seniman (the God of artists) adalah Viúvakarma yang juga populer di dalam kitab-kitab Itihàsa dan Puràóa.
 

Bila kita perhatikan perkembangan pemujaan hingga saat ini dewa-dewa Veda, khususnya Indra, Vàyu, Aditì dan lain-lain tidak nampak dipuja lagi. Mengapa hal tersebut dapat terjadi? Ha ini tidak lain, karena kedudukan dewa-dewa tersebut di atas, pada jaman kitab-kitab Puràna disusun tidak lagi dipuja, karena fungsi dan peranannya digantikan oleh Tiga Dewata Utama, manifestasi-Nya yang kita kenal dengan Tri Mùrti atau Trinitas. Dewa Agni diidentikkan dan digantikan oleh Brahma, Indra dan Vàyu diidentikkan dan digantikan oleh Viûóu, walaupun pada kitab suci Veda, Viûóu adalah nama lain dari Sùrya dan Sùrya sendiri diidentikkan dan digantikan fungsi dan peranannya oleh Úiva. Ketiga dewa-dewa ini dengan “parivàra devatà”-Nya (keluarga dewa-dewa, úakti atau istrinya, putra-putrinya termasuk pula pengiringnya) mendapat pemujaan yang khusuk.
 

Adapun dewa-dewa tersebut adalah Brahma dsengan úaktinya Sarasvatì, Viûóu dengan úaktinya Úrì dan Lakûmì, Avatàra-Avatàra-Nya seperti Ràma dan Kåûóa seperti Hanuman, Úiva dengan úaktinya Durgà dan Parvatì, putra-putranya seperti Kumara atau Subramaóyam, Skanda atau Muruga, Ganeúa atau Kàla. Berbagai aspek Durgà seperti Kàlì, Càóðì dan lain-lain terutama pada kitab-kitab Tantra.
 

Demikian antara lain dewa-dewa dan dewi di dalam Hindu yang digambarkan selalu berwajah muda (nirjara, para dewa tidak mengalami umur tua, karena mereka meminum Amåta/air kehidupan yang selalu membuat awet muda/tidak ada dewa berwajah tua, walaupun berjenggot dan menyeramkan, wajahnya selalu tampan).
 

Simpulan
 

Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka dalam mengkaji pengetahuan tentang Brahmavidya (teologi Hindu) maka dapat ditarik beberapa kesimpulan, antara lain:
 

1) Tuhan Yang Maha Esa sesungguhnya adalah Acintyarupa (Impersonal God) dan Eikeúvaravàda (monotheisme), maha tunggal.
 

2) Berbagai aspek kemahakuasaan Tuhan Yang Maha Esa disebut Dewa atau devatà, dewi, Bhaþþàra-Bhaþþàrì dan Avàtara, yakni Tuhan Yang Mangambil aneka wujud tertentu menyelamatkan cipataan-Nya teristimewa umat manusia.
 

3) Di antara berbagai manifestasi-Nya, manifestasi yang sangat utama adalah Brahma, Viûóu dan Úiva dan dipuja di Bali melalui sarana tiga buah pura yakni Pura Desa, Pura Puseh dan Pura Dalem.

 

Last Updated ( Thursday, 28 February 2008 )
 

© 2007 E - Banjar Team e-banjar portal web site