BANJAR ONLINE
HOME
SEARCH
BANJAR SAMATRA
FAQ
MAWIRASE
Buku Tamu
PABLIGBAGAN
Hit Counter
024057081
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari Ini231
mod_vvisit_counterKemarin606
mod_vvisit_counterMinggu Ini3111
mod_vvisit_counterBulan Ini1912
mod_vvisit_counterSeluruhnya683577
DHARMAWACANA
PEDANDA GUNUNG
PRABHU DARMAYASA
PEDANDA SEBALI
I MADE TITIB
MADRA SUTA
JERO DUKUH SAMIAGA
Login Form
Username

Password

Remember me
Lost Password??
No account yet? Register
WEB LINK
WEB HINDU
Sanggar Telematika
DS TEGALINGGAH AMLAPURA
SANGGAR RIMO
Sanggar Telematika Desa Batuan
SANGGAR DESA TIGA BANGLI
SANGGAR UBUD KELOD
BLOG DESA BUGBUG
BANJAR CIANGSANA BOGOR
BLOG DESA SEDANG BADUNG
BLOG BANJAR NORWAY
BLOG BANJAR BELGIA
BANJAR SUKA DUKA BELANDA

Catur Yoga Marga PDF Print E-mail
User Rating: / 0
PoorBest 
Written by admin   
CATUR YOGA MARGA,
JALAN MENCAPAI MOKÛA*
 
I Made Titib
 

man-manà bhava mad bhakto mad-yàji màý namaskuru
màm evaiûyasi satyaý te pratijane priyo’si me
 

Bhagavadgìtà XVIII.65.
 

Berpikirlah tentang Aku senantiasa, menjadi penyembah-Ku,
Bersembahyang kepada-Ku dan bersujud kepada-Ku.
Dengan demikian pasti engkau akan datang kepada-Ku.
Aku berjanji demikian kepadamu, karena engkau
Sahabat-Ku yang sangat Kucintai
 
Pendahuluan
Di dalam agama Hindu dikenal adanya berbagai jalan untuk menghubungkan diri dengan Tuhan Yang Maha Esa. Jalan atau cara itu bebas dipilih oleh umat-Nya sesuai dengan sifat dan pembawaannya. Di dalam agama Hindu tidak ada suatu keharusan untuk menempuh satu-satu jalan, karena semua jalan untuk menuju Tuhan Yang Maha Esa diturunkan oleh-Nya untuk memudahkan umat-Nya menuju kepada-Nya.

 

Jalan untuk menghubungkan diri kepada-Nya disebut Yoga. Kata ini berasal dari urat kata yuj (bahasa Sanskerta) yang berarti penyatuan atau menghubungkan diri, sedang kata marga yang sering digabungkan dengan kata yoga berarti jalan. Dengan demikian Yogamargaberarti jalan untuk menghubungkan diri, yang dimaksud adalah menghubungkan diri dengan Tuhan Yang Maha Esa. Usaha untuk menghubungkan diri dengan Tuhan Yang Maha Esa akan berhasil bila didukung dengan metode, media maupun lokasi spiritual yang kondusif untuk itu, di samping personalitas pribadi orang yang menghubungkan diri kepada-Nya.

 

Umumnya dikenal adanya empat jalan (marga) untuk menghubungkan diri dengan Tuhan Yang Maha Esa. Jalan tersebut menurut Sivananda (1997:127-135) adalah: (1) Karmayoga atau Karmamarga, (2) Bhaktiyoga atau Bhaktimarga, (3) Rajayoga atau Rajamarga, dan (4) Jñanayoga atau Jñanamarga. Huston Smith (1985:37-71) menerjemahkan keempat jalan tersebut sebagai berikut. (1) Jalan menuju Tuhan melalui kerja, (2) Jalan menuju Tuhan melalui cinta, (3) Jalan menuju Tuhan melalui latihan psikologis, dan (4) Jalan menuju Tuhan melalui pengetahuan. Abhinash Candra Bose (1990), dalam The Call of the Vedas dan Ketut Wiana (1993:49-60) dalam Bagaimana Umat Hindu Menghayati Tuhan membedakan jalan menuju Tuhan melaui pengelompokkan ajaran yang terkandung dalam kitab suci Veda, sebagai berikut.

 

(1) Jalan Bhaktiyoga, (2) Jalan Karmayoga, (3) Jalan Jñanayoga, Jalan Jñanayoga, dan (5) Jalan Vibhutiyoga. Menurut Sivananda (1997:127) Karmayoga adalah jalan spiritual bagi orang yang bertempramen aktif, Bhaktiyoga bagi orang yang bertempramen bhakti atau kasih, Rajayoga bagi yang bertempramen mistis, dan Jñanayoga bagi yang bertempramen rasional dan filosofis. Di samping itu terdapat juga Mantrayoga, Layayoga atau Kundaliniyoga, Lambikayoga danHatha Yogaadalah Yoga yang menekankan pada kesehatan jasmaniah, sedang Rajayoga lebih menekankan kejiwaan (psikologis). Yoga sesungguhnya artinya adalah penyatuan dengan Tuhan Yang Maha Esa.Melaksanakan Yogamembawa menuju penyatuan dengan Tuhan Yang Maha Esa. Bagaimanapun titik awalnya, akhir yang dicapai adalah sama.
 

Mokûa Sebagai Tujuan Tertinggi

Bila seseorang lepas dari ikatan dunia ia mencapai Mokûa. Mokûa artinya kelepasan. Inilah tujuan akhir pemeluk agama Hindu. Orang yang telah mencapai Mokûa tidak lahir lagi ke dunia, karena tidak ada yang mengikatnya. Ia telah bersatu dengan Paramàtmà (Àtman yang tertinggi atau Sang Hyang Widhi). Bila air sungai telah menyatu dengan air laut di tengah samudra luas, maka air sungai akan kehilangan identitasnya. Tidak ada perbedaan lagi antara air sungai dengan air laut. Demikian juga halnya Àtman yang mencapai Mokûa telah menyatu dengan Brahman atau Paramàtman.
 

Mokûa adalah tujuan tertinggi agama yang bersatunya Àtmà dengan Paramàtmà. Sumber hidup jagat raya yang disebut dengan berbagai nama. Bersatunya Àtmà dengan Brahman merupakan kebahagiaan yang sejati. Di dalam kitab suci Veda dinyatakan bahwa Mokûa itu dicapai dengan kesadaran dan bhakti, dengan pengekangan, melenyapkan niat dan karma-karma buruk dan lain-lain.

 

yat sànoá sànum àruhad bhùri aspata kartvam
tad indro arthaý cetati yùthena våûóir ejati
 
Ågveda I.10.2.
 
(Tuhan Yang Maha Esa (Indra) menjaga penyembahnya mendaki sebuah puncak ke puncak-puncak yang lain dan menyelesaikan kegiatan yang bermacam-macam. Tuhan Yang Maha Esa datang pada waktunya untuk Membawa ke alam tertinggi)
 

parà úånìhi tapasa yàyudhanam
 
Atharvaveda VIII.3.13.

 

(Tuhan Yang Maha Esa akan menghapus niat-niat buruk
dengan tapa dan brata/ipavaúa)

 

veda hametaý puruûaý mahàntamà sityavaróaý tamasaá parastàt
tam eva vivitvàti måtyu m eti nànyaá panthà vidyatenàya

 

Yajurveda 31.18.

 

(Saya mengetahui Beliau Maha Agung, yaitu yang penuh dengan cahaya yang jauh dari kegelapan, dengan mengetahuinya akan men- dapatkan Mokûa, dan kematian tidak lagi menjemput berulang-ulang. Wahai manusia tak ada jail lagi selain jalan ini).
 
Bila dikaji lebih jauh tugas utama manusia dalah untuk membebaskan Àtmà yang bersemayam pada dirinya sendiri, yang sering disebut sebagai Sang Diri untuk bebas dari belenggu tubuhnya, tetapi karena pengetahuan tentang hal tersebut tidak dipahami dengan baik, maka àtmà menjelang berulang kali meminjam berbagai bentuk badan dalam beberapa kali penjelmaan berulang. Tumbuh-kembangnya kesadaran Sang Diri (kesadaran Àtmà) mendorong umat manusia untuk semakin hari mengurangi keterikatannya dengan keduniawian, membersihkan karma-karma buruknya dengan jalan karma-karma baik yang dilakukan, maka pada saatnya, pengaruh karma buruk dapat dihapuskan, menjadikan Àtma lepas dari belenggu Karma dan penjelmaan, maka seseorang akan mencapai Mokûa. Secara sederhana “Mokûa” difomulasikan sebagai “sukha tan pawali duákha”, yakni mencapai kebahagiaan dan tidak pernah kembali tersentuh oleh duka nestapa.

 

Rabindranàtha Tagore dalam bukunya Pantai Keabadian yang diedit dan diberi kata pengantar oleh Deepak Chopra (2004; 13), menyatakan: bahwa perlu disadari yang dimaksud Tagore bukanlah pergi ke surga (svarga). Namun yang ia maksud dengan pulangadalah meluasnya wawasan, perjalanan kembali kepada kesadaran Tuhan yang bisa dicapai lewat pencerahan. Dalam salah satu perkataannya yang paling indah, dia berkata, Mengalami kematian adalah kehabisan daya, tetapi sampai pada akhir merupakan kesempurnaan. Dengan kata lain, tubuh akan mati ketika sudah terlalu capek untuk bertahan terus, tetapi bagi jiwa tidak ada yang berakhir sebelum kita mencapai kesadaran yang sempurna.
 

Deepak Chopra yang mengomentari karya Rabindranatha Tagore tentang keabadian mengatakan sebagai berikut.
 

Tagore mengenal dirinya sendiri dengan kejernihan dan keyakinan yang luar biasa. Dia tahu bahwa rumah sejatinya adalah keabadian. Dia tidak pergi ke mana-mana setelah mati, sebab keabadian tidak memiliki masa lalu, masa sekarang atau pun masa depan. Ilmu pengetahuan telah membuktikan pendapat ini. Benda-benda materi memang terasa padat ketika disentuh, tetapi pada level kuantum 99,999 persen dari sebuah atom sebenarnya adalah ruang kosong dan kepadatan itu akan lebur menjadi sekumpulan energi yang memancar. Energi ini tidak pernah diciptakan dan tidak pernah dihancurkan. Energi ini menyala ke luar masuk dalam wilayah prekuantum sebanyak jutaan kali setiap detiknya. Itulah satu-satunya kelahiran dan kematian dalam arti yang nyata yang bisa kita alami. Tubuh kita sama sekali bukanlah kejadian yang unik sebab tubuh kita mati ratusan kali sebelum mata anda selesai membaca satu kata dalam kalimat yang sedangkan anda baca ini. Apa yang kita sebut kematian adalah sebuah kesalahan istilah, kematian adalah sekadar terhentinya proses muncul dan hilang. Setelah menghembuskan nafas yang terakhir, kita kembali kepada situasi di mana waktu tidak ada lagi. Apa yang kita sebut maut sebenarnya adalah terhentinya kelahiran dan kematian (Chopra, 2004:19-20).

 

Berdasarkan uraian tersebut di atas maka Mokûa adalah kembalinya Àtma menuju kesempurnaan yang dapat dikaji melalui pendekatan teori kuantum yang sangat nyata kebenarannya dan mendukung teori tentang Mokûa menurut ajaran agama Hindu. Mokûa sebagai kondisi pikiran (state of mind) kembali menuju keasalnya ibarat buih-buih gelombang di pantai menuju ke samudra luas, samudra keabadian.

 

Catur Yoga Marga
Seperti telah dijelaskan di atas, Catur Yoga Marga merupakan jalan menuju Mokûa. Berikut sepintas akan dijelaskan masing-masing jalan tersebut.

 

1) Karmayogamarga (kewajiban demi kewajiban).
Karmayoga adalah jalan kegiatan yaitu jalan pelayanan tanpa pamrih, yang membawa pencapaian menuju Tuhan melalui kerja tanpa pamrih. Yoga ini merupakan penolakan terhadap buah perbuatan. Karmayoga mengajarkan bagaimana bekerja demi untuk kerja itu, yaitu tiadanya keterikatan. Demikian juga bagaimana menggunakan tenaga untuk keuntungan yang terbaik. Motto seorang Karmayogin (pelaksana Karmamarga) adalah Kewajiban demi kewajiban itu sendiri’. Bagi seorang Karmayogin, kerja adalah pemujaan, sehingga setiap pekerjaan dialihkan menjadi suatu pemujaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Seorang Karmayogin tidak terikat oleh karma (hukum sebab akibat), karena ia mempersembahkan buah perbuatannya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Yogah karmasu kausalam’, Yoga adalah ketrampilan dalam kegiatan (Sivananda, 1997:127-128). Penjelasan tentang setiap pekerjaan dilaksanakan sebagai wujud bhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa dijelaskan dalam Bhagavadgita IX.27-28 sebagai berikut. “Wahai Arjuna, apa pun yang engkau kerjakan, apapun yang engkau makan, apapun yang engkau persembahkan, dan engkau amalkan, juga disiplin diri apa pun yang engkau laksanakan. Lakukanlah semuanya itu hanya sebagai bentuk bhakti kepada Aku. Dengan demikian engkau akan terbebas dari ikatan kerja atau perbuatan yang menghasilkan pahala baik atau buruk. Dengan pikiran yang mantap dan terkendali, engkau akan terbebas dan mencapai Aku”. Pada bagian lain kitab Bhagavadgita (III.19,30) mengamanatkan: “Laksanakanlah kerja yang engkau lakukan tanpa pamrih.................. Serahkanlah seluruh perbuatanmu kepada-Ku................ bebaskan dirimu dari kerinduan dan kepentingan itu, berjuanglah jangan hiraukan kesedihan”.

 

Sivananda (1997:128-129) menambahkan:Sekali telah mengabaikan setiap tuntutan terhadap karyanya, termasuk seluruh tuntutan akan keberhasilannya, maka perbuatan Karmayoga tersebut tidak lagi berbalik kepada dirinya untuk mengotori dan mempertinggi egonya. Perbuatan tersebut tidak meninggalkan bekas. Biasanya, suatu kerja memberikan buah kesenangan maupun penderitanya sebagai akibat. Setiap kerja menambahkan satu mata rantai terhadap ikatan samsara dan membawa pada pengulangan kelahiran. Ini merupakan hukum karma yang pasti. Tetapi, melalui pelaksanaan Karmayoga, akibat karma dapat dihapus, dan karma menjadi mandul. Pekerjaan yang sama, apabila dilakukan dengan sikap mental yang benar, semagat yang benar, kehendak yang benar melalui yoga, tanpa keterikatan dan pengharapan terhadap buahnya, dengan pikiran yang seimbang dalam keberhasilan maupun kegagalan. Tidak ada menambahkan mata rantai terhadap belenggu samsara tersebut. Sebaliknya, memurnikan hati dan membantu untuk mencapai pembebasan melalui turunnya penerangan Tuhan Yang Maha Esa atau merekahnya fajar kebijaksanaan. Disiplin moral yang tinggi dan pengendalian indria-indriaya perlu sekali bagi pelaku Karmayoga. Oleh karena itu, sesungguhnya Brahmacarya (selibat) itu penting. Pengusahaan kebajikan seperti toleransi, kesesuaian, simpati, welas asih, pikiran seimbang, kasih sayang kosmis, penyabar, ketabahan, kerendahan hati, dermawan, kemulian, pengendalian diri, pengendalian kemarahan, tanpa kekerasan, kejujuran, membatasi makan, minum, tidur, sederhana dan mantap adalah perlu sekali. Setiap orang hendaknya melakukan kewajibannya sesuai dengan varna (profesi atas dasar bakat atau kecenderungan) dan asrama (masa kehidupan) masing-masing yaitu golongan sosial serta tahapan dalam kehidupannya. Tak ada manfaatnya meninggalkan pekerjaannya sendiri dan condong melakukan pekerjaan orang lain. Beberapa orang berpikir bahwa Karmayoga adalah tipe yang lebih rendah. Mereka berpikir bahwa mengangkut air, mencuci piring, melayani makanan orang-orang miskin dan menyapu lantai adalah pekerjaan yang hina. Pemikiran yang demikian itu merupakan kesalahan besar, karena mereka tidak memahami teknik dan kemulian Karmayoga. Sri Krishna, penguasa tiga dunia, berperan sebagai kusir Arjuna, bahkan beliau seorang penggembala ternak”.

 

2) Bhaktiyogamarga (mengasihi demi untuk kasih sayang itu sendiri)

Sivananda (1997:129-130) menyatakan bahwa bhakti merupakan kasih sayang yang mendalam kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang merupakan jalan kepatuhan atau bhakti. Bhaktiyoga disenangi oleh sebagian besar umat manusia. Tuhan merupakan pengejawantahan dari kasih sayang, dan dapat diwujudkan melalui cinta kasih seperti cinta suami kepada istrinya yang mengelora dan menyerap segalanya. Cinta kepada Tuhan harus selalu diusahakan. Mereka yang mencintai Tuhan tak memiliki keinginan ataupun kesedihan. Ia tak pernah membenci mahluk hidup atau benda apapun, dan tak pernah tertarik dengan objek-objek duniawi. Ia merangkul semuanya dalam dekapan tingkat kasih sayanngnya. Kama (keinginan duniawi) dan trisna (kerinduan) merupakan musuh dari rasa bhakti. Selama ada jejak-jejak keinginan dalam pikiran terhadap objek-objek duniawi, seseorang tidak dapat memiliki kerinduan yang dalam terhadap Tuhan. Atma-Nivedana merupakan penyerahan diri secara total setulus hati kepada Tuhan, yang merupakan anak tangga tertinggi dari Navavidha Bhakti, atau sembilan cara bhakti. Atma-Nivedana adalah Prapatti atau Saranagati. Penyembah menjadi satu dengan Tuhan melalui Prapatti dan memperoleh karunia Tuhan yang disebut Prasada. Cinta kasih Tuhan dan kegairahan yang menggelora yang dinikmati karena persekutuan dengan Tuhan tak dapat digambarkan secara tepat dengan kata-kata. Hanya orang bisu yang telah mencicipi enaknya makanan yang tidak dapat mengatakan hal itu. Ia hanya dapat diperlihatkan kepada beberapa orang yang terpilih saja. Hanya mereka yang telah mengalami cinta kasih itu akan dapat melihat, mendengar dan membicarakannya karena ia terus menerus berpikir tentang-Nya. Bhakti merupakan satu ilmu spiritual terpenting, karena mereka yang memiliki rasa cinta kepada Tuhan, sesungguhnya kaya. Tak ada kesedihan selain tidak memiliki rasa bhakti kepada Tuhan. Nama, sifat dan lila (permainan) Tuhan merupakan hal yang terpenting yang harus diingat. Kaki padma (stana suci) Tuhan merupakan objek meditasi yang terpenting. Para penyembahnya minum madu prema atau cinta kasih Tuhan. Tak ada perbedaan golongan sosial, keyakinan, keluarga, warna kulit atau ras di antara para penyembah, karena Tuhan Yang Maha Esa tidak memandang pada hal-hal seperti itu. Tuhan melihat kemurnian hati para penyembah, sehingga siapa pun dapat menjadi seorang penyembah Tuhan. Nanda, yang tak tersentuh, Ramdas, seorang penyamun; Kannappa, seorang pemburu; Kabir; seorang penekun Islam. Semuanya penyembah Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan orang-orang suci yang agung. Kannappa, seorang barbar yang kurang pendidikan yang memuntahkan air dari mulutnya ke atas Linga dan mempersembahkan daging babi hutan, menjadi bhakta (seorang penyembah) terbaik. Para Alwar Vaisnava dan Nayanar Saiva dari India Selatan, berasal dari golongan yang berbeda-beda.

 

3) Jñanayogamarga (jalan pemahaman spiritual)

Sivanada (1993:133-134) menyatakan bahwa jñanayoga merupakan jalan pengetahuan. Moksa (tujuan hidup tertinggi manusia berupa penyatuan dengan Tuhan Yang Maha Esa) dicapai melalui pengetahuan tentang Brahman (Tuhan Yang Maha Esa). Pelepasan dicapai melalui realisasi identitas dari roh pribadi dengan roh tertinggi atau Brahman. Penyebab ikatan dan penderitaan adalah avidya atau ketidaktahuan. Jiwa kecil, karena ketidaktahuan secara bodoh menggambarkan dirinya terpisah dari Brahman. Avidya bertindak sebagai tirai atau layer dan menyelubungi jiwa dari kebenaran yang sesungguhnya, yaitu bersifat Tuhan. Pengetahuan tentang Brahman atau Brahmajñana membuka selubung ini dan membuat jiwa bersandar pada Sat-Cit-Ananda Svarupa (sifat utamanya sebagai keberadaan-kesadaran-kebahagian mutlak) dirinya. Jñana bukan hanya pengetahuan kecerdasan, mendengarkan atau membenarkan. Ia bukan hanya persetujuan kecerdasan, tetapi realisasi langsung dari kesatuan atau penyatuan dengan yang tertinggi yang merupakan paravidya. Keyakinan intelekual saja tak akan membawa seseorang kepada Brahmajñana (pengetahuan dari yang mutlak). Pelajar Jñanayoga pertama-tama melengkapi dirinya dengan tiga cara yaitu: (1) pembedaan (viveka), (2) ketidakterikatan (vairagya), (3) kebajikan yang enam macam (sat-sampat), yaitu: (a) ketenangan (sama), (b) pengekangan (dama), (c) penolakan (uparati), ketabahan (titiksa), (d) keyakinan (sraddha), (e) konsentrasi (samadhana), dan (f) kerinduan yang sangat akan pembebasan (mumuksutva). Selanjutnya ia mendengarkan kitab suci dengan duduk khusuk di depan tempat duduk (kaki padma) seorang guruyang tidak saja menguasai kitab suci Veda (Srotriya), tetapi juga mantap dalam Brahman (Brahmanistha). Selanjutnya para siswa melaksanakan perenungan, untuk mengusir segala keragu-raguan. Kemudian melaksanakan melaksanakan meditasi yang mendalam kepada Brahman dan mencapai Brahma-Satsakara. Ia seorang Jivanmukta (mencapai moksa, bersatu dengan-Nya dalam kehidupan ini).

 

Ada tujuh tahapan dari Jñana atau pengetahuan, yaitu; (1) aspirasi pada kebenaran (subhecha), (2) pencarian filosofis (vicarana), (3) penghalusan pikiran (tanumanasi), (4) pencapaian sinar (sattwatti), (5) pemisahan batin (asamsakti), (6) penglihatan spiritual (padarthabhawana), dan (7) kebebasan tertinggi (turiya).Antara atma (sumber hidup) dalam tubuh manusia dan Atma (Brahman, sumberhidup alam semesta) di jagatraya dilukiskan bagaikan dua ekor burung pada sebatang pohon yang sama. Yang satu bertengger di puncak dan yang satu dibawah. Burung yang ada di puncak sepertinya tenang, diam dan penuh keagungan selamanya. Ia selalu dalam kebahagiaan. Burung yang lainnya, yang bertengger di cabang bawah, makan buah-buahan yang manis, dan pahit silih berganti. Ia kadang menari-nari dalam suasana bahagia. Pada saat lainnya merasa malang. Sekarang ia bersuka hati dan setelah beberapa saat menangis. Kadang-kadang ia mencicipi buah yang sangat pahit dan merasa mual. Ia memandang ke atas dan melihat burung indah lainnya dengan bulu keemas-emasan yang selalu bahagia. Ia juga ingin menjadi burung bulu keemasaan itu, tetapi segera melupakannya. Kembali ia merasakan buah yang sangat manis dan yang pahit, sehingga ia kembali ingin menjadi seperti burung yang di atas berangsur-angsur ia meninggalkan buah-buahan dan menjadi tenang dan penuh kebahagian, seperti burung yang di atasnya. Burung yang diatas adalah Brahman dan burung yang di bawah adalah roh atau atma pribadi yang memetik buah karmanya, yaitu kesenangan dan kesedihan. Ia mendapatkan pukulan dan sentakan dalam medan perang kehidupan. Ia mengembangkan vairagya (ketidakterikatan) dan pembedaan, serta pemusatan pikiran kepada Tuhan Yang Maha Esa, melakukan meditasi, memperoleh relasi diri dan menikmati kebahagian abadi bersatu dengan Brahman.

 

4) Rajayogamarga (jalan psikologis)

Rajayoga adalah jalan yang membawa penyatuan dengan Tuhan Yang Maha Esa, melalui pengekangan diri dan pengendalian diri dan pengendalian pikiran. Rajayoga mengajarkan bagaimana mengendalikan indria-indria dan vritti mental atau gejolak pikiran yang muncul dari pikiran. Bagaimana mengembangkan konsentrasi dan bagaimana bergaul dengan Tuhan Yang Maha Esa. Dalam Hathayoga terdapat disiplin fisik, sedangkan dalam Rajayoga terdapat disiplin pikiran.

 

Yama, Niyama, Asana, Pranayama, Dharana, Dhyana, dan Samadhi adalah delapan anggota (anga) dari Rajayoga. Yama dan Niyama membentuk disiplin etika yang memurnikan hati. Yama terdiri atas, Ahimsa (tanpa kekerasan), Satya (kejujuran), Brahmacarya (selibat), Asteya (tidak mencuri), dan Aparigraha (tidak menerima pemberian kemewahan). Semua kebajikan berakar pada Ahimsa. Niyama adalah kepatuhan, dan tersusun atas: Sauca (permurnian dalam dan luar), Santosa (kepuasan jiwa), Tapas (kesederhanaan/pengendalian diri), Svadhyaya (belajar kitab suci dan pengucaran mantra) dan Isvarapranidhana (berserah diri pada Tuhan Yang Maha Esa). Mereka yang mantap dalam Yama dan Niyama akan cepat maju dalam melaksanakan Yoga pada umumnya. Dengan Yama dan Niyama seseorang dapat mewujudkan Cittasuddhi atau Atmasuddhi (kesucian hati).
 

Asana, Pranayama dan Pratyahara merupakan perlengkapan pendahuluan dari Yoga. Asana adalah sikap badan yang mantap. Pranayama adalah pengaturan napas, yang menghasilkan ketenangan dan kemantapaan pikiran serta kesehatan yang baik. Pratyahara adalah penarikan indria-indria dari objek-objeknya. Seseorang harus melakukan Pratyahara untuk dapat melihat di dalam batin dan memiliki kemusatan pikiran.
 

Dharana adalah konsentrasi pikiran pada suatu objek atau cakra dalam Istadevata. Lalu menyusul Dhyana, atau meditasi pengaliran yang tak henti-hentinya dari pemikiran satu objek, yang nantinya membawa kepada keadaan Samadhi, saat seperti itu yang bermeditasi dan yang dimeditasikan menjadi satu. Semua vritti yakni gejolak pikiran mengendap. Pikiran kehilangan fungsinya. Segala samskara, kesan-kesan dan vasana (kecenderungan dan pikiran halus) terbakar sepenuhnya dan Yogi (pelaksana Yoga)terbebas dari kelahiran dan kematian. Ia mencapai kaivalya atau pembebasan akhir (kemerdekaan mutlak)
 

Yogi berkonsentrasi pada cakra-cakra, pikiran, matahari, bintang, unsur-unsur alam semesta dan sebagainya dan mencapai pengetahuan supra manusia dan memperoleh penguasaan atas unsur-unsur tersebut. Daya konsentrasi hanya kunci untuk membuka rumah tempat penyimpanan kekayaan pengetahuan.
 

Konsentrasi tak dapat muncul dalam waktu seminggu atau sebulan, karena ia memerlukan waktu. Pengaturan dalam melaksanakan konsentrasi merupakan kepentingan yang utama. Brahmacarya, tempat yang dingin dan sesuai, pergaulan dengan orang-orang suci (satsanga) dan sattvika merupakan alat bantu dalam konsentrasi.
 

Konsentrasi dan meditasi menuntun menuju Samadhi atau pengalaman supra sadar, yang memiliki beberapa tingkatan pendakian, disertai atau tidak disertai dengan pertimbangan (vitarka), analisa (vicara), kebahagiaan (ananda), dan kesadaran diri (asmita). Demikian, kailvaya atau kemerdekaan tertinggi dicapai.
 

Siddhi atau daya-daya gaib, terwujud dengan sendirinya, apabila Yogi maju dalam pelaksanaan yoga. Siddhi ini semacam tembus pandang, tembus dengar, merupakan halangan jalan spiritual. Ia harus menjauhkan diri dari padanya tanpa ampun dan tetap tegap langsung menuju tujuan, yaitu Asamprajnata atau Nirvikalpa Samadhi. Spiritual yang sesungguhnya tidak ada kaitannya dengan daya-daya ini merupakan hasil sampingan dari konsentrasi. Mereka yang mengejar siddhi semacam ini adalah seorang tokoh manusia duniawi, atau tokoh kepala rumah tangga. Bila tidak hati-hati, ia dapat binasa.

 

Di samping Catur Marga Yoga di atas, dikenal pula jalan yang ke-5 yang disebut. Vibhutiyogamarga. Vibhutiyogamarga (jalan penghayatan terhadap keagungan-Nya). Di dalam Bhagavadgita IX dan X diuraikan tentang dasar ajaran Rajayoga dan Vibhutiyoga. Ajaran Rajayoga merupakan dasar-dasar untuk mengungkapkan berbagai sifat rahasia Tuhan Yang Maha Esa yang digambarkan dalam wujud suasana batin. Sabaliknya ajaran Vibhutiyoga adalah gambaran lahiriah sebagai pengamatan batin. Kata vibhuti artinya kebesaran dan kemuliaan Tuhan Yang Maha Esa. Makna utama ajaran Vibhutiyoga berdasarkan Bhagavadgita adalah sebagai jawaban atau yang memberi jawaban atau pertanyaan yang mempersoalkan sifat-sifat Tuhan Yang Maha Esa itu. Arjuna memohon kepada Sri Krishna agar menjelaskan hakekat kemahakuasaan dan kemahamuliaan Tuhan Yang Maha Esa. Dengan adanya pemahaman itu, maka seseorang tidak akan keliru dalam mengadakan pendekatan. Dari gambaran yang diperoleh dalam Bhagavadgita umat manusia dapat mengenal Tuhan berbagai kemuliaan sifat-sifat-Nya yang melebihi segala sifat yang ada. Dengan ungkapan Tuhan Yang Maha Esa adalah dewa dari semua dewa, maha bijaksana, maha mengetahui, maha adil, maha tinggi, maha suci, terbaik dari yang paling baik, terbesar dari yang paling besar, terkecil dari yang paling kecil, tertinggi dari yang paling tinggi dan pengagungan lainnya, adalah satu bentuk dari ajaran Vibhutiyoga. Jadi intisari ajaran Vibhutiyoga adalah penjelasan bahwa umat manusia menyadari aspek keagungan Tuhan Yang Maha Esa itu, karena apabila membicarakan hakekat Tuhan Yang Maha Esa, sifat-Nya serba rahasia, maka memahami yang serba rahasia itu merupakan tujuan dari ajaran Vibhutiyoga (Wiana, 1994:57-58)
 

Terhadap jalan Yoga di atas, mungkin sebagian besar umat manusia sangat sulit memahaminya. Untuk itu ada jalan praktis yang dianjurkan oleh Dada J.P.Vaswani (2004:9) yang menyatakan ada hal yang sangat menarik dan selalu dianjurkan oleh semua ajaran agama adalah bahwa hidup ini waktunya sangat singkat, hanya sekejap dalam keabadian. Untuk memperoleh keabadian itu, ada tiga hal yang perlu diperhatikan, yakni sebagai berikut.
 

1) Kembangkan kasih sayang dan pengabdian terhadap seorang Avatara seperti Ràma, Kåûna, dan Buddha, seorang nabi seperti Musa, Yesus atau Nabi Muhammad S.A.W. dan lain-lain orang-orang suci karena hakikatnya padanya terdapat pencaran Illahi. Tentunya di samping mengembangkan kasih saying kepada para suci tersebut, diikuti pula dengan mengembangkan kasih saying kepada semua ciptaan-Nya.

2) Bina hubungan terus-menerus dengan Tuhan Yang Maha Esa dan para utusan-Nya karena segala sesuatu adalah atas kehendak-Nya.

3) Kembangkan sifat atau karakter untuk tidak mementingkan diri sendiri (egois). Ulurkanlah tangan kita kepada setiap orang yang memerlukan bantuan
 

Tiga saran praktis Dada J.P. Vaswani tersebut diamanatkan oleh hampir semua kitab suci dari seluruh agama yang ada. Di dalam kitab haspatitattva16disebutkan ada tiga jalan untuk mencapai mokûa atau kalëpasan, yakni sebagai berikut.
 

Tëlu prakàra nikaò sàdhana, anuò gavayakën de saò mahyun iò kalëpasan: jñànàbhyudreka, òaranya ikaò vruh riò tattva kabeh, indriyàyogamàrga, òaranikaò tan jënëk ri viûaya, tåûóadoûakûaya òaranikaò humilaòakëna phala niò úubhàúbhakarma.

 


Tiga hal yang mesti dilakukan sebagai jalan bagi seseorang yang ingin memperoleh mokûa, j
ñànàbhyudreka, mengetahui semua pengetahuan (filsafat).Indriyàyogamàrga, melepaskan keterikatan (ayoga) dengan semua objek indria, tåûóadoûakûaya, dengan melenyapkan keterikatan, yakni menghilangkan pahala perbuatan baik dan buruk.

 


Dari kutipan di atas dijelaskan bahwa tiga jalan atau cara yang meliputi pemahaman pengetahuan agama, pengendalian diri, dan melepaskan keterikatan yang masing-mamsing disebut (1) j
ñànàbhyudreka, mengetahui semua pengetahuan agama (filsafat); (2) indriyàyogamàrga, melepaskan keterikatan (ayoga) dengan semua objek indria, dan (3) tåûóadoûakûaya, dengan melenyapkan keterikatan, yakni menghilangkan pahala perbuatan baik dan buruk.
 

Bila tiga jalan yang dianjurkan oleh Våhaspatitattva di atas disosialisasikan kepada umat Hindu dan mampu diikuti dengan baik, keyakinan terhadap hukum perbuatan (karmaphala) dan SNM akan dapat ditingkatkan. Dengan demikian usaha untuk meningkatkan úraddhà atau keimanan tentang SNM dapat dilakukan mulai dari pendidikan agama dalam keluarga, pendidikan agama di sekolah dan di lingkungan masyarakat. Hal tersebut akan berhasil diwujudkan bila didukung pula oleh lembaga-lembaga keagamaan seperti Parisada Hindu Dharma Indonesia, Desa Pakraman, organisasi kepemudaan Hindu seperti sekehe taruna-taruni dan lain-lain, di samping tegaknya hukum dan tidak berkembangnya penyakit sosial seperti perjudian, pelacuran, dan berbagai bentuk kriminalitas.

 

Simpulan

Berdasarkan uraian di atas dapat ditarik simpulan bahwa Tuhan Yang Maha Esa memberikan berbagai jalan untuk menuju kepada-Nya yang disebut Yoga atau Marga di samping mengembangkan hal-hal yang bersifat praktis seperti pelayanan, ketulusan dan senantiasa mengingat dan berbakti kepada-Nya.

Last Updated ( Thursday, 15 May 2008 )
 

© 2007 E - Banjar Team e-banjar portal web site